KAPUAS HULU, RUAI.TV – Pelaksanaan Tradisi Nuba Adat di Sungai Silat, Kecamatan Silat Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu, tidak sekadar menjadi kegiatan menangkap ikan biasa. Tradisi turun-temurun ini terbukti menjadi simbol perekat sosial lintas suku dan agama yang kuat di tengah masyarakat.
Ketua Panitia, Yohanes, menuturkan, Nuba Adat merupakan tradisi etnik Seberuang-Silat yang sudah diwariskan turun temurun. Dalam situasi kemarau ekstrem, para leluhur meyakini dengan menjalani Tradisi Menuba Adat, bisa mengusir segala sampar penyakit dan mengundang turunnya hujan.
“Kami menggunakan tuba tradisional berupa akar-akaran, bukan zat kimia,” tegas Yohanes, Senin (17/08/2026) malam di selam persiapan ritual.
Meskipun sudah diinformasikan sejak dua minggu sebelumnya, kehadiran massa pada hari pelaksanaan terjadi secara spontan. Warga dari berbagai tempat tiba-tiba saja datang berbondong-bondong ke lokasi karena tertarik dengan nilai kebersamaan dari tradisi ini.
Baca juga:
Wisata Dadakan, Ramai-ramai Bermain di Pasir Timbul Sungai Kapuas
Warga yang berpartisipasi merupakan Komunitas Adat dari dua kabupaten, yakni Kapuas Hulu dan Sintang. Mereka besal dari beberapa desa, di antaranya Desa Nanga Nuar, Desa Pangeran, dan Desa Miau. Khusus dari Desa Nanga Nuar saja, jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai 500 orang.
Bertahan di Tengah Cuaca Buruk
Semangat gotong royong Masyarakat Adat ini diuji oleh faktor alam menjelang hari pelaksanaan. Pada Senin malam, lokasi acara sempat diguyur hujan lebat yang disertai suara guntur selama dua jam. Kondisi cuaca ini berlangsung sejak pukul 19.30 sampai pukul 21.00 WIB.
Akibat curah hujan tersebut, kondisi air Sungai Silat sempat mengalami pasang. Meskipun air pasang berpotensi mengganggu proses pelarutan getah tuba di sungai, Upacara Adat ini diputuskan untuk tetap berjalan.
Yohanes mengatakan karena persiapan sudah dilakukan sejak lama dan jumlah orang yang hadir sudah sangat banyak, upacara Nuba Adat harus tetap diselesaikan sesuai rencana.
Ada 56 orang yang bertugas menghaluskan akar tuba dengan cara dipukul-pukul, agar cairan getahnya keluar. Mereka mengerjakan proses itu selama sekitar enam jam.
Dalam rentang waktu itu, mereka harus menjalani pantang, berupa tidak boleh merokok, tidak boleh buang air kecil, dan tidak boleh tidur.

Berbagi Sukacita Memburu Ikan
Setelah semalaman melakukan persiapan, menjelang pagi, suasana sungai berubah. Aliran Sungai Silat seketika menjadi panggung sukacita saat cairan getah Tuba Adat yang telah diolah semalaman, siap dicurahkan ke dalam air.
Baca juga:
Sebanyak 8 buah sampan yang bergerak di atas permukaan sungai. Dari atas delapan lambung sampan tersebut, cairan tuba adat dituangkan secara bersama-sama. Melarut ke dalam riak sungai dan membawa berkah bagi semua orang yang telah menanti.
Tidak lama setelah getah tuba menyatu dengan air sungai, efek alami dari akar tersebut mulai terlihat. Berbagai jenis ikan di dalam Sungai Silat mulai bermunculan dan menggelepar, siap dikumpulkan.
Warga yang bersiap di sepanjang tepian sungai langsung turun berbondong-bondong untuk memburu ikan-ikan yang keriapan tersebut. Baik dari pinggiran maupun dari atas sampan yang sedang berjalan, warga saling berbagi ruang, berkejaran dengan riak air, dan memanen hasil sungai dengan penuh suka cita.
Ratusan kilogram ikan sungai berhasil diperoleh. Kebersamaan dalam momen ini menjadi bukti kuatnya hubungan sosial antar-komunitas di Kalbar. Kehadiran ratusan masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, dan daerah asal—termasuk dukungan ketersediaan bahan dari warga Pelimping Sintang—menunjukkan Nuba Adat sebagai ruang komunal untuk mempererat tali persaudaraan. (red/hep)















Leave a Reply