NTT, RUAI.TV – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8), turut berdampak pada aktivitas pariwisata. Getaran gempa tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga wisatawan yang tengah berada di sejumlah wilayah NTT.
Pos Pendamping Nasional (Pospenas) mencatat dampak gempa pada berbagai sektor pariwisata, mulai dari akomodasi, daya tarik wisata, fasilitas, aksesibilitas hingga sarana pendukung.
Kementerian Pariwisata bersama pemerintah daerah dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLBF) terus melakukan pendataan serta verifikasi kerusakan, terutama pada wilayah yang masih menghadapi gangguan listrik dan telekomunikasi.
BPOLBF menyebut aktivitas pariwisata di Labuan Bajo dan kawasan Taman Nasional Komodo secara umum kembali berjalan setelah otoritas membuka akses pelayaran.
Pada Minggu (16/8), sebanyak 308 kapal wisata berangkat dari Labuan Bajo dengan membawa 3.651 penumpang. Jumlah tersebut terdiri atas 811 wisatawan domestik dan 2.840 wisatawan mancanegara.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Labuan Bajo melaporkan aktivitas Pelabuhan Marina Labuan Bajo berjalan normal, lancar, aman, dan kondusif.
Akses pelayaran menuju kawasan Taman Nasional Komodo juga kembali berjalan sehingga wisatawan dapat melanjutkan aktivitas wisata.
Sektor transportasi udara masih menghadapi penyesuaian operasional sesuai hasil pemeriksaan kondisi pascagempa. Bandara Komodo Labuan Bajo kembali menjalankan operasional secara normal pada Senin (17/8).
Sementara itu, sejumlah bandara lain di NTT masih menghadapi pembatalan penerbangan. Bandara H. Hasan Aroeboesman Ende masih membatalkan sebagian penerbangan. Bandara Soa-Bajawa juga membatalkan sementara seluruh penerbangan terjadwal pada Senin (17/8).
Kondisi berbeda terjadi di Bandara Frans Sales Lega Ruteng. Sejumlah penerbangan masih mengalami pembatalan.
Petugas juga masih memantau kondisi fasilitas bandara setelah gempa menimbulkan kerusakan atau retakan pada bangunan terminal, gedung administrasi, gedung PKP-PK, serta sejumlah fasilitas pendukung.
Bandara Umbu Mehang Kunda Waingapu masih menjalankan sebagian penerbangan, sementara sebagian penerbangan lainnya mengalami pembatalan.
Otoritas penerbangan menyatakan kondisi penerbangan di Flores masih dinamis. Hasil pemeriksaan keselamatan serta keputusan operasional masing-masing maskapai dan pengelola bandara menjadi dasar penentuan keberlanjutan penerbangan.
Hotel dan Homestay Turut Terdampak
Gempa juga menimbulkan kerusakan pada sejumlah fasilitas akomodasi. Data sementara mencatat 10 hotel mengalami kerusakan ringan, sedangkan dua hotel mengalami kerusakan berat. Sebanyak tujuh hotel lainnya tidak mengalami kerusakan.
Salah satu hotel yang mengalami kerusakan berat berada di Kabupaten Nagekeo. Kerusakan juga terjadi pada sejumlah homestay.
Hasil asesmen sementara mencatat lima bangunan mengalami kerusakan ringan dan tiga bangunan mengalami kerusakan berat. Seluruh akomodasi tersebut berada di Kabupaten Manggarai.
Delapan Destinasi Wisata Mengalami Kerusakan
Petugas juga melakukan pendataan terhadap kondisi daya tarik wisata (DTW) pada sejumlah kabupaten di Flores. Pemerintah memprioritaskan keselamatan wisatawan serta kelayakan infrastruktur sebelum membuka kembali seluruh destinasi.
Data sementara menunjukkan delapan DTW mengalami kerusakan ringan. Meski demikian, mayoritas wisatawan tetap berada dalam kondisi aman.
Taman Nasional Komodo dan sejumlah kawasan wisata sekitarnya kembali menerima wisatawan setelah akses pelayaran dibuka. Aktivitas pariwisata di kawasan tersebut secara umum berjalan normal tanpa laporan insiden terhadap wisatawan.
Petugas juga menemukan kerusakan pada sejumlah DTW di beberapa kabupaten di Flores. Namun, beberapa destinasi masih menutup aktivitas wisata untuk sementara.
Destinasi tersebut meliputi Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Waerebo di Kabupaten Manggarai, serta Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende.
Otoritas pariwisata akan terus memperbarui informasi mengenai pembukaan kembali destinasi yang masih tutup. Pemerintah juga meminta wisatawan mengikuti arahan petugas lapangan serta memantau informasi melalui saluran resmi pemerintah daerah.(BNPB/ts)















Leave a Reply