Arsip

Krisis Air Bersih di Sekadau: Kemarau dan Dugaan Pencemaran Sungai akibat PETI Perparah Kondisi Warga

Upaya Pemerintah Kabupaten Sekadau mendistribusikan air bersih kepada warga di musim kemarau. (Foto/Ist)

SEKADAU, RUAI.TV – Kabupaten Sekadau yang selama ini memiliki sumber daya air melimpah justru menghadapi krisis air bersih pada musim kemarau tahun ini.

Penurunan curah hujan dalam beberapa pekan terakhir memicu kekeringan pada sejumlah wilayah, sementara dugaan pencemaran sungai akibat aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) semakin memperburuk kondisi masyarakat.

Krisis air bersih memang muncul akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Namun, persoalan lingkungan yang melanda sejumlah sungai di Sekadau ikut mempersempit akses masyarakat terhadap sumber air layak konsumsi.

Advertisement

Sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan memperoleh pasokan air, terutama kawasan yang berjarak cukup jauh dari sungai besar maupun jaringan pelayanan air minum.

Sungai-sungai kecil yang selama ini menjadi andalan masyarakat kini kehilangan debit air. Sebagian aliran bahkan sudah tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Persoalan semakin kompleks karena Sungai Sekadau bersama sejumlah anak sungainya juga mengalami pencemaran yang diduga berkaitan dengan aktivitas PETI. Kondisi tersebut membuat masyarakat tidak hanya menghadapi keterbatasan pasokan air, tetapi juga penurunan kualitas air.

Layanan air minum di Kabupaten Sekadau sendiri masih mengandalkan pasokan dari Sungai Meragun di Kecamatan Nanga Taman. Kapasitas layanan tersebut belum mampu menjangkau seluruh masyarakat.

Dampak krisis air bersih mulai terasa selama dua pekan terakhir. Warga Desa Bokak Sebumbun hingga sejumlah titik di Desa Sungai Ringin, Kecamatan Sekadau Hilir, mulai mengalami kesulitan memperoleh air. Kondisi serupa juga terjadi di Desa Boti, Kecamatan Sekadau Hulu.

Seorang warga bernama Antonia mengungkapkan kondisi tersebut melalui akun media sosialnya. Ia menyebut air Sungai Mentrap sudah tidak lagi layak konsumsi karena pencemaran yang diduga berkaitan dengan aktivitas PETI.

“Karena PETI, air Sungai Mentrap tidak bisa dikonsumsi lagi. Saat kemarau panjang seperti sekarang, banyak sumur warga sudah kering sehingga masyarakat sangat kesulitan memperoleh air bersih. Hari ini, Polres Sekadau menyalurkan bantuan air bersih untuk masyarakat Dusun Boti,” tulis Antonia.

Kesaksian warga tersebut memperlihatkan bahwa krisis air bersih tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. Kerusakan lingkungan juga ikut memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat.

Merespons kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sekadau menggandeng Polres Sekadau untuk menyalurkan bantuan air bersih. Pemerintah mengerahkan armada pemadam kebakaran bersama kendaraan water cannon milik Polres Sekadau guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Akibat kesulitan air bersih warga antusias mengantre pembagian Air Bersih dari Polres Sekadau. (Foto/Ist)

Bupati Sekadau, Aron, mengakui bahwa sejumlah wilayah mengalami kesulitan memperoleh air bersih akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.

“Saat ini kita memasuki musim kemarau pada Agustus dan September. Saya mengajak masyarakat, khususnya yang berada di wilayah perkotaan, agar menggunakan air sesuai kebutuhan. Jangan sampai boros karena kita harus mengantisipasi kekurangan air,” kata Aron, Jumat (14/8).

Aron juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus menyalurkan bantuan air kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Kami akan mencoba menyalurkan bantuan air kepada masyarakat, baik yang berada di wilayah dekat maupun yang jauh dari ibu kota kabupaten. Banyak sumber air yang sebelumnya masyarakat gunakan sekarang sudah kering. Karena itu, kami akan terus memantau situasi dan mengirimkan bantuan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sekadau, Eko Sulistyo, menjelaskan bahwa proses penyaluran air bersih sudah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Krisis air bersih yang melanda Sekadau menjadi pengingat bahwa sungai memiliki peran penting dalam menopang kehidupan masyarakat. Ketika kekeringan terjadi bersamaan dengan pencemaran, masyarakat menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Sungai tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga menjadi penopang kehidupan bagi masyarakat pedesaan.

Karena itu, upaya menjaga kawasan hulu, melestarikan daerah aliran sungai, serta menghentikan berbagai aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sumber daya air bagi generasi mendatang.(dig/ts)

Advertisement