Arsip

Naik Dango di Pontianak Jadi Daya Tarik Wisatawan Belanda

Wisatawan asal Belanda, Leon, foto bersama peserta lomba Tradisional Meraut Pabayo di Rumah Radakng pontianak. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

PONTIANAK, RUAI.TV – Wisatawan asal Belanda, Leon, menghadiri rangkaian adat Naik Dango ke-3 Dewan Adat Dayak Kota Pontianak bersama istri dan anaknya. Ia datang ke Kalimantan setelah mengunjungi sejumlah kota di Pulau Jawa dan Bali.

Leon menyampaikan kesannya terhadap kegiatan budaya tersebut. “Sangat menarik bagi kami, karena kami belum mengetahui budaya Dayak, jadi sekarang kita bisa melihat sesuatu tentangnya. Sangat menarik,” ujar Leon, Rabu pagi (22/4) di Rumah Radakng.

Ia menyebut kunjungan ini menjadi pengalaman pertamanya di Kalimantan. “Pertama kali di Kalimantan, ya,” katanya. Leon juga menyampaikan rencananya untuk kembali pada waktu sore guna melihat lebih banyak aktivitas dalam acara tersebut.

“Saya berharap untuk kembali pada waktu petang, kemudian mungkin ada lebih banyak orang, dan lebih banyak hal yang bisa dilakukan. Tapi saya berharap mendengar musik dan entertainment,” ucapnya.

Gambar: Wisatawan asal Belanda memegang Pabayo yang sudah jadi, hasil kerajinan dari peserta Lomba. (Foto/ruai.tv)

Panitia Naik Dango ke-3 mencatat jumlah kunjungan wisatawan mencapai lebih dari 200 orang. Wisatawan tersebut didominasi pengunjung asal Malaysia yang datang melalui undangan panitia maupun kunjungan mandiri, serta wisatawan dari Belanda.

Kehadiran wisatawan lokal hingga mancanegara ini menunjukkan peran Naik Dango sebagai daya tarik wisata budaya di Kota Pontianak. Salah satu agenda yang menarik perhatian pengunjung yaitu lomba tradisional meraut pabayo. Tradisi ini menampilkan keterampilan masyarakat Dayak dalam mengolah bambu menjadi rumbai khas yang digunakan dalam ritual adat.

Pabayo memiliki makna penting bagi masyarakat sub suku Dayak Kanayatn. Masyarakat menggunakan pabayo sebagai bagian dari perlengkapan ritual adat, termasuk dalam upacara gawai, pembukaan lahan, hingga pembangunan rumah.

Pabayo menjadi simbol kesuburan, kesejahteraan, serta bentuk penghormatan kepada leluhur. Setiap rautan pada pabayo mencerminkan makna tertentu sesuai tujuan dan tingkatan ritual.

Melalui lomba meraut pabayo, peserta menunjukkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan tradisional yang terus diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan ini sekaligus memperkenalkan nilai budaya Dayak kepada pengunjung serta memperkuat identitas budaya di tengah perkembangan zaman.