PONTIANAK, RUAI.TV – Pemerintah Kota Pontianak mulai mengkaji sistem penyediaan air baku jangka panjang untuk menghadapi krisis air akibat intrusi air laut saat musim kemarau.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan rencana tersebut saat meninjau proses pemindahan air baku dari kapal menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Parit Mayor, Sabtu pagi, 19 September 2026.
Menurut Edi, Pemkot Pontianak tengah mengkaji sejumlah alternatif untuk menjaga ketersediaan air baku secara permanen.
Satu diantara rencana mencakup pembangunan bendung karet pada Sungai Penepat serta pembangunan jaringan pipa yang menghubungkan sumber air baku dengan sejumlah fasilitas pengolahan air.
“Jadi tahun ini kita sedang membuat kajian untuk air baku jangka panjang yang permanen. Ada beberapa alternatif, khususnya memperpanjang Tuk Tubiung, membuat bendung karet di Sungai Penepat, kemudian menghubungkan pipa-pipa ke Nipah Kuning, IPA Parit Mayor, dan Selat Panjang,” kata Edi.
Edi menjelaskan, rencana tersebut akan menempatkan waduk Penepat sebagai bagian antara dalam sistem distribusi air baku. Sistem pipa akan membawa air dari sumber air menuju sejumlah titik pengolahan dan pelayanan air bagi masyarakat.
“Kalau ada pipa, insya Allah kalau air bakunya aman, waduk di Penepat hanya sebagai antara yang akan menyalurkan air ke pipa-pipa di Kota Pontianak,” ujarnya.
Pemkot Siapkan Solusi Jangka Panjang
Edi mengatakan kondisi krisis air saat ini berkaitan dengan kemarau panjang. Menurutnya, Pontianak biasanya menghadapi siklus kemarau berat dalam kurun waktu tertentu.
“Kalau tahun depan, dua tahun lagi, tiga tahun lagi, insya Allah ini tidak separah ini. Biasanya kita punya siklus sepuluh tahunan, dan yang paling parah seperti ini,” kata Edi.
Edi menyebut kondisi saat ini juga menunjukkan pentingnya sumber air baku yang mampu bertahan saat musim kemarau.
Ia menilai sistem pengelolaan air harus mengandalkan sumber air yang lebih stabil agar masyarakat tidak kembali menghadapi persoalan serupa.
Angkutan Kapal Jadi Solusi Darurat
Untuk memenuhi kebutuhan air saat kondisi darurat, Pemkot Pontianak saat ini mengandalkan pengangkutan air baku menggunakan kapal atau tongkang.
Edi menyebut langkah tersebut hanya menjadi solusi sementara karena membutuhkan biaya investasi dan operasional yang besar.
“Ini kan darurat, pakai tongkang. Sementara saja. Investasi ini sangat besar. Jadi kita harus minta bantuan APBN untuk membantu Kota Pontianak,” ujarnya.
Edi juga melihat kebutuhan air baku tidak hanya menyangkut Kota Pontianak. Sejumlah wilayah sekitar, termasuk Kabupaten Kubu Raya, juga membutuhkan sumber air tawar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pemkot Libatkan Akademisi
Edi mengatakan Pemkot Pontianak akan melibatkan kalangan akademisi serta tenaga ahli teknik dalam kajian sistem air baku tersebut.
Ia menyebut kajian perlu mempertimbangkan kondisi sumber air, kebutuhan masyarakat, kapasitas jaringan, serta keberlanjutan sistem dalam jangka panjang.
“Jadi kajian-kajian ini memastikan ahli teknik turun, dan kita juga akan melibatkan akademisi seperti Untan. Terutama bentuk pusat, harus memikirkan air bakunya,” kata Edi.
Pemkot Pontianak berharap kajian tersebut menghasilkan sistem penyediaan air baku permanen yang mampu menjaga pasokan air tawar bagi Pontianak dan wilayah sekitarnya saat kemarau panjang. (RED)















Leave a Reply