Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.
Sudah dua bulan terakhir hingga tengah September 2026 ini, warga Kota Pontianak mengeluhkan rasa air ledeng di rumah berubah menjadi payau, bahkan asin pekat. Digunakan untuk sikat gigi, misalnya, membuat rasa tidak nyaman di lidah.
Setelah mandi, badan terasa lengket. Sabun tidak berbuih.
Fenomena air asin yang keluar dari pipa Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa ini terjadi akibat kemarau panjang. Kurangnya curah hujan membuat pasokan air tawar menyusut.
Kondisi ini menyebabkan air laut dengan mudah menyusup masuk ke aliran Sungai Kapuas Kecil.
Baca juga:
Lalu, bagaimana sebenarnya penjelasan ilmiah di balik fenomena tahunan ini?
Mengapa Air Laut Bisa “Mudik” ke Sungai?
Penyusupan air asin ke aliran sungai ini dikenal dengan istilah ilmiah intrusi air laut. Kejadian ini bukanlah misteri, melainkan hukum alam yang biasa terjadi saat musim kemarau.
Sebuah penelitian mengenai intrusi air laut sudah dilakukan oleh tim ilmuwan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), yaitu Rizki Purnaini, Sudarmadji, dan Suryo Purwono. Meski penelitian ini sudah dilakukan 10 tahun yang lalu, yakni pada Agustus 2016, tetapi hasilnya tetap relevan dengan kondisi sekarang.
Dalam penelitian berjudul “Pengaruh Pasang Surut Terhadap Sebaran Salinitas di Sungai Kapuas Kecil” tersebut, tim ilmuwan ini menjelaskan penyebab utamanya secara sederhana:
“Intrusi air permukaan terjadi pada saat arus pasang tinggi tetapi debit aliran dari hulu sungai kecil pada saat curah hujan rendah. Pada musim hujan debit aliran besar, sementara pada musim kemarau kecil. Pada waktu banjir, debit sungai mendorong polutan ke laut, sedang pada debit kecil polutan bergerak lebih ke arah hulu.”
Baca juga:
Sumber Air Baku Dilanda Banjir, Air PDAM Bengkayang Jadi Keruh
Singkatnya, saat musim hujan, air tawar dari hulu sungai punya tenaga yang kuat untuk mendorong air laut agar tetap berada di muara. Namun, saat kemarau seperti dua bulan belakangan ini, aliran air tawar melemah.
Akibatnya, saat air laut pasang, ia tidak punya “lawan” dan dengan bebas merangsek naik ke arah daratan.
Bisa Menyusup Hingga 20 Kilometer
Menurut temuan tim peneliti UGM tersebut, jangkauan air laut saat kemarau ternyata tidak main-main. Lidah air laut bisa menyusup sejauh ± 20 kilometer ke arah hulu sungai dari bibir muara.
Baca juga:
Krisis Air Bersih Melanda Landak, Warga Andalkan Bantuan Saat Kemarau
Karena jarak jangkauan yang jauh inilah, titik pipa hisap (intake) milik PDAM yang berada di sungai ikut terendam air asin. Dari uji laboratorium, kadar garam dan total padatan terlarut (TDS) di air sungai saat pasang otomatis melesat tinggi hingga melebihi standar mutu air bersih yang layak (di atas 1.000 mg/l).
Kondisi inilah yang membuat air yang dialirkan ke rumah-rumah warga Pontianak menjadi terasa payau bahkan asin. (dig/hep)















Leave a Reply