PONTIANAK, RUAI.TV – Pekatnya kepungan kabut asap yang dirasakan warga Kalbar memasuki fase kritis. Data indikator kualitas udara hari ini Sabtu 29 Agustus 2026 di situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terpantau wilayah Kubu Raya pukul 16.00 WIB menjadi yang terparah.
Redaksi menelusuri situs BMKG untuk mengecek Konsentrasi Partikulat (PM2.5) di tautan ini: https://www.bmkg.go.id/kualitas-udara/pm25
Memang tidak ditemukan kategori untuk Kota Pontianak. Dari penelusuran langsung yang dilakukan Sabtu ini di sistem pemantauan Particulate Matter (PM2.5) tersebut, ada 27 wilayah stasiun pemantau yang aktif di seluruh Indonesia.
Baca juga:
Apa Arti PM2.5? Debu Karhutla Tak Bisa Disaring Bulu Hidung Manusia!
Dari puluhan daftar tersebut, nama “Kota Pontianak” sama sekali tidak tercantum atau kosong dari sistem. Namun wilayah penyangga yang berbatasan langsung langsung mencatatkan rekor sebagai kota dengan polusi paling parah se-Indonesia dan masuk ke dalam Kategori Hitam atau Berbahaya.
Data stasiun pemantau BMKG mencatatkan kondisi wilayah terparah pada 29 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB sebagai berikut:
- Kubu Raya (Terparah/Kategori Hitam): Mencapai angka kritis 320,2 µg/m³ dengan status Berbahaya.
- Sintang: Mencapai 232,8 µg/m³ dengan status Sangat Tidak Sehat.
- Kota Jambi: Mencapai 173,1 µg/m³ dengan status Sangat Tidak Sehat.
- Mempawah: Mencapai 140,1 µg/m³ dengan status Tidak Sehat.
- Muaro Jambi: Mencapai 136,1 µg/m³ dengan status Tidak Sehat.
Baca juga:
Karhutla Kalbar Menggila, 4 Kabupaten Terparah, BNPB Sebar 2.000 Kg Garam

Sebagai perbandingan agar publik paham tingkat bahayanya, BMKG mengklasifikasikan, kualitas udara yang Normal dan Sehat (Kategori Baik) wajib berada di rentang 0 hingga 15,5 µg/m³.
Sementara itu, batas aman maksimal sebelum udara dinyatakan merugikan kesehatan adalah 55,4 µg/m³.
Baca juga:
Hujan Buatan, Begini Cara Membuatnya Lewat Teknologi Modifikasi Cuaca
Dengan lonjakan angka di Kubu Raya, atmosfer di kawasan penunjang Bandara Supadio tersebut sudah terkontaminasi polutan halus hingga 7 kali lipat di atas batas tidak sehat, atau hampir 30 kali lipat di atas standar udara bersih.
Pekatnya partikel abu sisa kebakaran kawasan gambut hari ini memicu sesak nafas, perih di mata, dan jarak pandang terbatas serta aroma asap yang pekat. Panjangnya kemarau juga sudah mencemari air ledeng yang terasa asin. (red/dig)














Leave a Reply