KAPUAS HULU, RUAI.TV – Lebih dari sepekan masyarakat Desa Batu Tiga, Kecamatan Bunut Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, menghadapi ancaman kekurangan pangan.
Kondisi ini bukan karena ketersediaan bahan pangan yang tidak ada, melainkan karena akses transportasi menuju desa terputus setelah sungai yang selama ini menjadi jalur utama membawa kebutuhan pokok mengalami kekeringan akibat kemarau.
Sungai yang biasanya masyarakat gunakan untuk mengangkut sembako dan kebutuhan pangan kini tidak lagi dapat masyarakat lalui menggunakan perahu.
Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendatangkan kebutuhan pokok dari pusat kecamatan maupun kabupaten.
Masyarakat kemudian mengambil langkah darurat dengan bergotong royong membuka jalan serta membangun jembatan sederhana agar kendaraan dapat membawa kebutuhan pokok menuju Desa Batu Tiga.

Mereka membuka akses tersebut menggunakan cangkul dan peralatan seadanya karena tidak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan pangan selama sungai mengalami kekeringan.
“Kalau gak gitu kami bisa tidak makan, ini sudah jalan satu minggu,” kata seorang warga setempat.
Sebelum sungai mengering, masyarakat mengandalkan jalur sungai untuk mobilitas dan distribusi kebutuhan pokok. Perjalanan melalui sungai menuju pusat kecamatan dapat memerlukan waktu tiga hingga empat hari.
Sementara melalui jalur darat, perjalanan sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam jika akses jalan tersedia.
Kondisi tersebut membuat masyarakat memilih membuka jalur darurat secara mandiri. Namun, jalan hasil gotong royong itu belum mampu menjadi akses jangka panjang karena kondisi jalur masih sangat rusak.
Masyarakat hanya menggunakan cangkul dan peralatan seadanya untuk membuka jalan. Kondisi jalan juga menghadapi ancaman lain ketika musim hujan tiba.
Hujan berpotensi membuat permukaan jalan berlumpur dan licin sehingga semakin menyulitkan masyarakat membawa kebutuhan pokok menuju desa.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah segera membangun akses jalan yang layak menuju Desa Batu Tiga. Mereka menilai keberadaan jalan sangat penting, terutama ketika jalur sungai tidak dapat masyarakat gunakan.
“Kami minta kepada pemerintah, kami sangat membutuhkan jalan. Sekarang sungai tidak bisa lagi pakai perahu, jadi kami sangat minta kepada pemerintah kami minta diadakan jalan dan di mana sila yang kedua, itu yang kita tuntut,” harap masyarakat.
Masyarakat mengaku telah berulang kali mengajukan pembangunan jalan kepada pemerintah. Namun, hingga saat ini mereka belum melihat pembangunan akses jalan yang mampu mengatasi persoalan transportasi menuju desa.
Kondisi tersebut membuat masyarakat berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kebutuhan akses dasar Desa Batu Tiga.
Mereka juga berharap wakil mereka di parlemen ikut memperjuangkan pembangunan jalan serta memenuhi janji politik kepada masyarakat.
Bagi masyarakat Desa Batu Tiga, pembangunan jalan bukan sekadar kebutuhan untuk memperlancar transportasi. Akses tersebut menjadi kebutuhan penting untuk membawa pangan, sembako, serta berbagai kebutuhan masyarakat ketika sungai tidak lagi dapat masyarakat gunakan sebagai jalur transportasi.
Masyarakat kini masih mengandalkan jalan darurat hasil gotong royong sambil menunggu perhatian pemerintah terhadap kebutuhan akses menuju desa mereka.(dig/ts)















Leave a Reply