Arsip

Netizen Msia “Semprot” RI Soal Kabut Asap: Tetangga Macam Apa Anda! 

Kawasan Pontianak terpantau pada Minggu (30/08/2026) dengan kabut asap pekat. Foto: ruai.tv/hep

    Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.

Lonjakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang menembus angka ekstrem di atas 1.000 akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Kalimantan memicu gelombang kemarahan besar dari warga negara tetangga. Netizen Malaysia ramai-ramai “menyemprot” pemerintah Republik Indonesia (RI) terkait krisis kabut asap lintas batas yang terus berulang tanpa penanganan konkret. 

Sentimen negatif ini meledak di media sosial setelah media Malaysia yang berbasis di Kuching, Sarawak, The Borneo Post, mengunggah kabar mengenai tawaran bantuan operasi pemboman air (water-bombing) dari pemerintah Jepang untuk membantu Indonesia mengatasi titik api.

Advertisement

Dalam unggahan di akun Facebook resmi yang terverifikasi (centang biru), The Borneo Post pada Minggu (30/08/2026) menulis: “Japan has offered Indonesia assistance with water-bombing operations to combat forest and land fires in Kalimantan, as the Air Pollutant Standard Index (ISPU) in the region surged past 1,000.” 

(Jepang telah menawarkan bantuan operasi pemboman air kepada Indonesia untuk memerangi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, seiring Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut melonjak melewati 1.000).

Baca juga: 

Pers Asing Soroti Karhutla Kalbar, Picu Kabut Asap Lintas Batas

Komentar Pedas

Unggahan tersebut langsung diserbu oleh netizen Malaysia yang merasa geram karena harus kembali menghadapi kiriman kabut asap tahunan. Banyak dari mereka yang menyindir regulasi lingkungan serta metode pertanian tebas-bakar di Indonesia hingga melontarkan kalimat pedas, “tetangga macam apa Anda.”

Berikut adalah beberapa komentar langsung dari netizen Malaysia di kolom diskusi tersebut:

Akun IH menyindir sikap enggan menerima bantuan dengan menulis, “Indonesia kata jangan campur tangan itu adalah kerana ekosistem bidang pertanian turun menurun merekaaa…takpa,biar nyawa habis asalakan pertanian mereka mampan😮‍💨😮‍💨😌😌” 

(Indonesia bilang jangan campur tangan itu adalah karena ekosistem bidang pertanian turun-temurun mereka… tidak apa-apa, biar nyawa habis asalkan pertanian mereka berkelanjutan).

Kekesalan yang ekstrem juga diungkapkan oleh ML yang menulis, “I prefer flood of rain like Nepal wash away all Kanoha🤣” 

(Saya lebih memilih banjir hujan seperti di Nepal menghanyutkan seluruh Konoha [plesetan netizen untuk Indonesia]). 

Baca juga: 

Apa Arti PM2.5? Debu Karhutla Tak Bisa Disaring Bulu Hidung Manusia!

Meski demikian, komentar ekstrem tersebut memicu perdebatan di antara sesama netizen Malaysia. Akun NJS kemudian muncul memberikan teguran keras atas sentimen negatif tersebut dengan menulis, “ML as much as i hate this haze in our country, wishing this kind of thing is messed up.” 

(ML, meskipun aku sangat membenci kabut asap ini di negara kita, mendoakan hal seperti itu [bencana banjir] adalah hal yang keterlaluan/kacau).

Sebagian netizen bahkan mendesak adanya langkah hukum internasional. Akun PP menulis, “Affected countries such as Malaysia and Brunei should sue Indonesian Government for causing the haze. Maybe that should fix their brain a little” 

(Negara-negara yang terdampak seperti Malaysia dan Brunei harus menuntut Pemerintah Indonesia karena menyebabkan kabut asap. Mungkin itu bisa sedikit memperbaiki otak mereka).

Kritik mengenai sejarah karhutla yang terus berulang tanpa henti disampaikan oleh BE, “I won’t be surprised that the Indonesian will start another wildfire again next year. Still not learning from all the haze that happened few decades ago. From 1997, 2005, 2006, 2009, 2010, 2013, 2015, 2016, 2017, 2019 and 2023. All from slash and burn.” 

(Saya tidak akan terkejut jika orang Indonesia akan memulai kebakaran hutan lagi tahun depan. Masih belum belajar dari semua kabut asap yang terjadi beberapa dekade lalu. Dari 1997, 2005, 2006, 2009, 2010, 2013, 2015, 2016, 2017, 2019, dan 2023. Semuanya dari tebas dan bakar).

Tuduhan Kesengajaan

Netizen bernama MLn bahkan menuduh adanya unsur kesengajaan, “Indonesia sengaja bakar supaya tanah jadi subur. Sebab tu dorang melambatkan pemadaman api. Ni tiap2 tahun berlaku. Ini bukan bencana tapi mmg kerja dorang tiap2 tahun” 

(Indonesia sengaja bakar supaya tanah jadi subur. Karena itu mereka melambatkan pemadaman api. Ini tiap-tiap tahun terjadi. Ini bukan bencana tapi memang kerjaan mereka setiap tahun).

Nada sarkasme juga oleh akun dengan aksara Mandarin, menulis, “Tahun depan buat lagi ya kalimantan 👍 patut tidak maju²” (Tahun depan bikin lagi ya Kalimantan, pantas tidak maju-maju). 

Masalah finansial dan ketergantungan bantuan internasional turut disorot oleh CA yang berkomentar, “Ada duit ke nak bayar tu? Takkan free?” (Ada uang kah untuk bayar itu? Memangnya gratis?). 

Ia kemudian menambahkan di komentar lain, “Next year buat lagi. Dtg lagi negara luar tolong. Every year same routine.” (Tahun depan bikin lagi. Datang lagi negara luar menolong. Setiap tahun rutinitas yang sama).

Baca juga:

Masuk Zona Hitam, Kualitas Udara 29 Agustus 2026 Kritis!

Tetangga Macam Apa Anda

Akun MRLJ mengkritik kepemimpinan pemerintah Indonesia saat ini dalam menangani masalah lingkungan makro, “I hope the egoistic govt of Indo accept the offer from Japan. Every year you let yr netizens burn and scorch the land for farming the primitive ways. When are you going to grow up. What kind of neighbour are you. If the govt never set a standard their own pple will set their own standard (primitive ways of farming will continue) and this is what happen year after year exporting unwanted haze to neighbours. Probowo has lost his plot.” 

(Saya berharap pemerintah Indonesia yang egois menerima tawaran dari Jepang. Setiap tahun Anda membiarkan netizen Anda membakar dan menghanguskan lahan untuk bertani dengan cara-cara primitif. Kapan Anda akan dewasa. Tetangga macam apa Anda. Jika pemerintah tidak pernah menetapkan standar, masyarakatnya sendiri yang akan menetapkan standar mereka sendiri [cara bertani primitif akan terus berlanjut] dan inilah yang terjadi tahun demi tahun, mengekspor kabut asap yang tidak diinginkan ke negara tetangga. Prabowo telah kehilangan kendali atas rencananya).

Hingga saat ini, perdebatan di kolom komentar tersebut masih terus bergulir dan memicu ketegangan digital antar netizen di Asia Tenggara. Sementara masyarakat di Kalimantan masih terus berjuang menghadapi pekatnya polusi udara. (dig)

Artikel ini merangkum opini dan reaksi publik di media sosial terhadap krisis kabut asap lintas batas. Seluruh kutipan di atas merupakan hak cipta dan tanggung jawab penuh dari masing-masing pemilik akun Facebook terkait.

Advertisement