Arsip

Belajar Dewasa dari Rico, Putra Kumpai yang Menulis Kejujuran Hidup

Momen Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026, diisi dengan peluncuran dan bedah buku ‘KITA BELUM DEWASA’ karya Sugioto guna menambah Literasi di Indonesia. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

PONTIANAK, RUAI.TV – Peluncuran buku berjudul Kita Belum Dewasa karya Sugioto berlangsung hangat di sebuah hotel di Pontianak, Sabtu malam, 2 Mei 2026.

Momen itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional dan menghadirkan ratusan undangan dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, politisi, pengusaha, mahasiswa, hingga tokoh lintas etnis.

Kehadiran mereka memperlihatkan antusiasme tinggi terhadap karya literasi yang mengangkat refleksi kehidupan secara mendalam.

Sugioto, pria berusia 56 tahun yang lahir di Kumpai, Kalimantan Barat, kembali menghadirkan karya ketiganya setelah sebelumnya merilis buku Proses, Protes, Sukses pada 2022 dan Kita di Ujung Tanduk pada 2024.

Sosok yang akrab disapa Rico ini terus menunjukkan konsistensi dalam menulis gagasan yang dekat dengan realitas kehidupan masyarakat. Dalam buku terbarunya, Rico mengajak pembaca menelusuri makna kedewasaan dari sudut pandang yang berbeda.

Ia tidak menempatkan kedewasaan sebagai ukuran usia, jabatan, atau status sosial. Ia justru menekankan sikap seseorang dalam menghadapi luka, perbedaan, kegagalan, serta cara berdamai dengan diri sendiri sebagai tolok ukur utama.

“Buku ini berbicara tentang hal-hal yang dekat dengan keseharian, seperti cara kita bereaksi saat tidak dipahami, cara menyikapi kritik, cara mencintai tanpa menguasai, serta cara melepaskan tanpa membenci,” ujar Rico.

Melalui setiap halaman, Rico mengajak pembaca berhenti sejenak dari ritme kehidupan yang serba cepat. Ia mendorong pembaca untuk menunda penilaian, lalu bertanya secara jujur kepada diri sendiri, apakah selama ini benar-benar bertumbuh atau hanya sekadar bertambah usia. Pertanyaan sederhana itu menjadi inti refleksi yang ia tawarkan.

Rico menyusun buku ini sebagai cermin kehidupan. Ia menyebut tidak semua cermin memantulkan wajah, sebagian justru memantulkan sikap, cara berpikir, dan reaksi seseorang ketika menghadapi situasi yang tidak berjalan sesuai harapan.

Perspektif ini memperkuat pesan bahwa proses pendewasaan membutuhkan keberanian untuk melihat diri secara jujur. Ia juga menegaskan bahwa buku tersebut bukan kumpulan ceramah moral.

Ia memilih pendekatan reflektif dengan bahasa yang lembut namun tajam. Tulisan-tulisan dalam buku itu mengalir sebagai pengalaman dan pemikiran yang mengajak pembaca menyusuri sisi batin yang jarang tersentuh dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah perkembangan zaman yang menuntut kecepatan dan pencapaian, Rico melihat banyak orang berusaha tampil matang dan kuat. Namun, ia menilai realitas menunjukkan hal berbeda. Banyak orang masih belajar mengelola emosi, menghadapi tanggung jawab, serta mengendalikan ego. Kondisi itu menjadi latar kuat lahirnya buku Kita Belum Dewasa.

“Kalau hanya disampaikan secara lisan, jangkauannya terbatas. Melalui buku, lebih banyak orang bisa memahami dan mempelajari pesan yang saya sampaikan,” kata Rico.

Ia menekankan satu pilihan utama yang menjadi benang merah buku tersebut, yakni memilih menjadi dewasa atau hanya bertambah usia. Menurutnya, kedewasaan tercermin dari kemampuan mengambil keputusan secara bijaksana dalam berbagai situasi kehidupan.

Dalam salah satu bagian buku, tepatnya pada halaman 109 dan 110, Rico menuliskan pengalaman pribadinya saat gagal meraih promosi pekerjaan yang sangat ia harapkan. Ia menggambarkan momen tersebut sebagai titik balik penting dalam hidupnya.

Ia menghadapi kegagalan itu dengan berusaha tetap berdiri tegak. Ia belajar berpikir jernih, menilai situasi secara objektif, serta menemukan peluang yang tersembunyi di balik tekanan. Pengalaman tersebut membentuk cara pandangnya terhadap tantangan dan memperkuat ketahanan diri.

Rico juga mengutip pepatah yang menyatakan bahwa di balik setiap kesulitan terdapat kemudahan. Ia memaknai ungkapan tersebut sebagai kenyataan yang ia rasakan sendiri. Ia melihat kekuatan sejati sering muncul setelah seseorang melewati masa sulit.

Ia mengaitkan pengalaman itu dengan prinsip yang sejalan dengan pemikiran Nelson Mandela, yakni kegagalan bukan akhir, melainkan proses belajar. Rico menilai prinsip tersebut penting untuk menjaga semangat dalam perjalanan karier dan kehidupan.

Dari pengalaman tersebut, Rico merumuskan tiga kunci utama menuju kedewasaan, yaitu kepandaian, kesadaran, dan ketahanan. Ia menempatkan ketiga aspek tersebut sebagai fondasi dalam menghadapi kehidupan secara konstruktif dan bermakna.

Peluncuran buku ini juga menghadirkan sejumlah tokoh penting, antara lain Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara, Gusti Yusri, Direktur Confucius Institute Untan Yang Xiaoqiang, Rektor Universitas Widya Dharma Pontianak Dr. M. Hadi Santoso, serta Rektor UPB Pontianak Dr. Purwanto.

Selain itu, perwakilan organisasi pendidikan, akademisi, mahasiswa, hingga tokoh masyarakat turut meramaikan acara tersebut.

Rico tidak hanya berhenti pada peluncuran buku. Ia juga menunjukkan komitmennya dalam memperluas akses literasi. Ia membagikan buku tersebut secara gratis kepada seluruh tamu yang hadir. Ia juga menyerahkan buku tersebut kepada perpustakaan daerah, perpustakaan kota, serta sejumlah perpustakaan universitas di Pontianak.

Langkah tersebut menunjukkan upayanya mendorong generasi muda agar lebih dekat dengan literasi dan refleksi diri. Ia juga berencana menjalin kerja sama dengan Gramedia agar buku tersebut dapat menjangkau pembaca yang lebih luas di berbagai daerah.

Rico berharap buku Kita Belum Dewasa dapat memberikan inspirasi dan masukan bagi masyarakat. Ia menyadari karya yang ia tulis tidak sempurna. Namun, ia menegaskan setiap proses menulis menjadi bagian dari upaya untuk terus belajar dan berkembang.

“Kesempurnaan hanya milik Allah SWT. Kita memiliki ketidaksempurnaan, tetapi kita selalu berusaha menjadi lebih baik,” ujarnya.

Melalui buku ini, Rico menghadirkan pesan sederhana namun kuat. Ia mengajak setiap orang berani mengakui bahwa proses menuju kedewasaan tidak selalu mudah. Ia menempatkan kejujuran sebagai langkah awal dalam perjalanan tersebut.

Buku Kita Belum Dewasa tidak hanya menawarkan bacaan, tetapi juga ruang refleksi. Rico menghadirkan pengalaman, pemikiran, dan nilai kehidupan dalam balutan bahasa yang mengalir. Ia membuka ruang dialog antara penulis dan pembaca tentang makna tumbuh sebagai manusia.

Kehadiran buku ini memperkaya khazanah literasi di Kalimantan Barat. Rico menunjukkan bahwa karya tulis dapat menjadi medium kuat untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan nilai kehidupan kepada masyarakat luas.

Melalui langkah tersebut, Rico tidak hanya menulis buku, tetapi juga menyalakan semangat belajar sepanjang hayat. Ia membuktikan bahwa perjalanan menuju kedewasaan selalu terbuka bagi siapa saja yang bersedia belajar, merenung, dan melangkah dengan kesadaran.