Arsip

Tahbisan Bersejarah 17 Diakon di Katedral Pontianak

Prosesi pemasangan busana diakonat berupa stola dan dalmatik. Foto: ruai.tv/Komsos KAP

    Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.

Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak menorehkan catatan sejarah baru, Selasa (04/08/2026). Pertama kalinya dalam sejarah keuskupan, sebanyak 17 frater diosesan, Kongregasi Pasionis (CP), dan Ordo Kapusin (OFM Cap), ditahbiskan bersamaan menjadi diakon. 

Perayaan agung yang menyedot perhatian ribuan umat dan biarawan-biarawati ini dipersembahkan oleh Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr Samuel Oton Sidin, OFM Cap. Turut mendampingi, Uskup Emeritus Mgr. Agustinus Agus, serta sejumlah imam konselebran. 

Termasuk di antaranya, Pastor Faustus Bagara Darmawan, OFMCap, Minister Provinsi Kapusin Pontianak, dan Pastor Sabinus Lohin, CP, Provinsial Pasionis Indonesia. 

Dalam homilinya, Mgr. Samuel memberikan pesan teologis yang sangat kuat mengenai esensi dari sebuah tahbisan kediakonan, sebagai tahbisan tingkat pertama. 

Uskup menegaskan, tahbisan ini bukanlah sebuah formalitas atau sekadar batu loncatan menuju jenjang imamat, atau kelak ditahbiskan menjadi pastor. Melainkan sebuah ikatan spiritual untuk meneladani Kristus yang merendahkan diri-Nya menjadi seorang hamba.

“Diakon berpartisipasi dalam pelayanan uskup setempat, tetapi mereka tidak melayani sebagai Kristus sang kepala. Mereka melayani in persona Christi servi, yang berarti Kristus sang hamba,” tegas Mgr. Samuel. 

Momen paling menyentuh dan sakral terjadi ketika seluruh calon diakon merebahkan diri dan bersujud di lantai di depan altar utama. Di saat yang sama, umat yang hadir berlutut sembari mengiringi momen tersebut dengan melantunkan Litani Para Kudus, memohon penyertaan surgawi bagi para pilihan Allah. 

Momen saat 17 frater yang akan ditahbiskan menjadi diakon, melantunkan Litani Para Kudus. Foto: ruai.tv/Komsos KAP

Setelah itu, penumpangan tangan dilakukan oleh Mgr. Samuel dan Mgr. Agustinus di atas kepala setiap calon diakon secara bergantian. Kemudian disusul pengenaan stola kediakonan serta dalmatik sebagai busana liturgi resmi para diakon. 

Ritual inti ini diakhiri dengan penyerahan Kitab Suci Injil secara personal sebagai lambang kini mereka adalah bentara Injil Kristus.

Perwakilan Dewan Pastoral Paroki (DPP) Katedral Santo Yosef Pontianak, Pius Fransiskus, merangkum rasa syukur umat. Dia juga mewakili ungkapan hati para orang tua yang telah merelakan dan mengantarkan putra terbaik mereka untuk mengabdi seumur hidup bagi Gereja.

“Hari ini akan tercatat dalam sejarah, pertama kalinya di Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak telah ditahbiskan 17 diakon oleh Mgr Samuel. Kita yang hadir, menjadi saksi sejarah ini,” ujar Pius. 

Tahbisan bersejarah ini memberi tambahan tenaga pastoral bagi Keuskupan Regio Kalimantan. Mereka segera mendapat tugas di Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Ketapang, Sanggau, Sintang, hingga Banjarmasin.  

Inilah nama Ke-17 diakon baru tersebut. Dua diakon diosesan adalah Silvanus Purnomo, dan Dominikus Irpan. 

Delapan diakon Ordo Kapusin: Petrus Kalut Kurniawan, Bernardus Ebeneser Sembiring, Christopher Ricky, Silvanus Eko, Markus Tasu Quere, Fransiskus Yoga Adisena, Kristian Apriandi Fernando, Silvester Egi Maryanto.  

Tujuh diakon dari Kongregasi Pasionis: Andreas Pisin, Fransiskus Dedianto, Vincensius de Paulo Sabino, Nobertus Epo, Libertus Ragut, Petrus Melki, dan Patrisius Josep Ekokelen. (hep)