Arsip

Selain Robo-Robo, Ini Tradisi Budaya Populer di Kalbar

Robo'-Robo' di Sandai. Foto: dok ruai.tv
Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.

Keindahan alam suatu provinsi kadang sangat memukau. Namun, daya tarik wilayah tak terbatas pada lanskap alam, melainkan juga kekayaan tradisi budaya yang hadir di tengah masyarakat. 

Di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) kekayaan budaya yang ada sudah cukup populer. Baru-baru ini, kehangatan budaya itu terasa dalam perayaan Robo’-Robo’. 

Kegiatan ini berlangsung setiap Rabu terakhir bulan Safar, di Kuale Parit Nanas, Kelurahan Siantan Hulu, Kecamatan Pontianak Utara, Kota Pontianak, Rabu 12 Agustus 2026 lalu.

Advertisement

Momen ini bertepatan dengan 28 Safar 1448 Hijriah. Komunitas Melayu menjadikan tradisi ini sebagai pesta kebersamaan. Warga membawa makanan tradisional dari rumah, mengikuti doa bersama, kemudian menikmati hidangan. 

Baca juga:

Robo’-Robo’ Jaga Tradisi, Pererat Silaturahmi dan Cintai Alam

Di sinilah silaturahmi antargenerasi kembali tercipta, sekaligus pengingat manusia untuk selalu menjaga harmoni dan mencintai alam sekitar.

Selain budaya Melayu, semangat kebersamaan yang sama juga terasa dalam ritual-ritual adat multietnis lainnya di Kalbar. 

Sebagai tempat hidup bersama multietnis, Kalbar memiliki sederet tradisi unik sekaligus ikonik yang tidak saja dikenal di level regional, tetapi hingga internasional. 

Ritual “ngampar bide” dalam Pekan Gawai Dayak ke-37 di Pontianak, Kalbar. Foto: DOK/ruai.tv

Gawai Dayak

Sekitar Mei, kemeriahan Gawai Dayak akan terasa di beberapa wilayah Kalbar. Ini merupakan ritual adat yang cukup populer, sebagai bentuk rasa syukur kepada Jubata (Tuhan) atas kelimpahan hasil panen padi.

Pusat perayaan biasanya di Rumah Radakng Pontianak. Tak hanya ritual, momen ini menjadi kesempatan tampilkan aneka seni budaya khas, hingga pernak-pernik yang menarik, sampai permainan tradisional yang mulai lenyap dari keseharian.

Baca juga:

Masyarakat Adat di Ketapang Gelar Mandi Safar, Ini Makna dan Tujuannya

Festival Saprahan di Kota Pontianak. Foto: dok ruai.tv

Saprahan Melayu

Dalam komunitas Melayu, ada tradisi makan bersama dengan sebutan saprahan. Asal istilah dari kata “saprah” yang berarti berhampar atau tergelar. 

Dalam tradisi ini, para tamu duduk lesehan di lantai secara berkelompok. Mereka mengelilingi hidangan yang ditata rapi di atas wadah khusus.

Tradisi yang populer di Kota Pontianak dan Sambas ini tidak hanya urusan santap bersama. Tetapi penuh nilai filosofis yakni kesetaraan dan keramahtamahan, sehingga setiap orang duduk bersila menghadapi hidangan yang sama. 

Permainan naga saat Cap Go Meh di Kota Pontianak. Foto: dok ruai.tv

Cap Go Meh

Bagi komunitas Tionghoa, khususnya di Kota Singkawang, ada perayaan Cap Go Meh. Pelaksanannya setiap 15 hari setelah Tahun Baru Imlek. Perayaan besar-besaran biasanya diselenggarakan di Kota Singkawang yang bergelar “Kota Seribu Kelenteng”. 

Festival Cap Go Meh terkenal secara global, memikar sejumlah turis manca negara untuk hadir menyaksikannya. Di antaranya ada parade tatung, yakni orang-orang yang menjadi medium roh leluhur. 

Umumnya festival ini mengikursertakan kalangan multi etnis, dengan membawa kekhasan budaya masing-masing. Nuansa harmoni sangat terasa dalam perbedaan yang indah. 

Kekayaan budaya ini menjadi bukti nyata Kalbar menjadi provinsi yang kaya akan harmoni dalam keberagaman. Tradisi-tradisi tersebut terus dijaga, dirayakan, dan diwariskan agar identitas lokal tetap bernafas di tengah modernisasi. (dig/hep)

Advertisement