PONTIANAK, RUAI.TV – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terus muncul seiring meluasnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026.
Data Kementerian Kesehatan hingga 9 September 2026 mencatat 113.336 kasus ISPA pada tujuh provinsi yang terdampak langsung karhutla.
Ketujuh provinsi tersebut yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Total 12.517.488 jiwa mengalami dampak langsung akibat karhutla.
Dari total kasus ISPA, sebanyak 26.545 kasus menyerang anak usia 0–5 tahun. Sementara 86.791 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.
Data yang dirilis Teraju Foundation berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan juga mencatat empat orang diduga meninggal dunia akibat dampak karhutla. Tiga korban berasal dari Kalimantan Tengah dan satu korban berasal dari Kalimantan Barat.
Selain korban meninggal, karhutla juga menyebabkan 324 orang menjalani rawat inap, 23 orang mengalami luka ringan, dan 45 orang harus menjalani evakuasi.
Kasus gangguan kesehatan akibat paparan asap juga tercatat cukup tinggi pada sejumlah wilayah. Riau, misalnya, mencatat 11.140 orang berobat karena penyakit terkait asap dalam rentang 19 Agustus hingga 7 September 2026.
Sementara itu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, mencatat 7.165 kasus ISPA sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, 1.754 kasus terjadi pada anak balita.
Kasus ISPA Kalbar Bertambah
Teraju Foundation juga merilis perkembangan kasus ISPA pada sejumlah kabupaten dan kota di Kalimantan Barat untuk periode Agustus hingga 11 September 2026.
Data tersebut mencatat total 673 tambahan kasus dari 10 kabupaten/kota. Jumlah kasus terbaru mencapai 113.682 kasus berdasarkan akumulasi data pada wilayah yang tercantum dalam laporan tersebut.
Kabupaten Kubu Raya mencatat tambahan kasus terbesar secara jumlah, yakni 176 kasus, sehingga total kasus mencapai 16.942 kasus.
Ketapang mencatat tambahan 101 kasus dengan total 17.943 kasus. Pontianak bertambah 82 kasus sehingga total mencapai 37.007 kasus.
Landak mencatat tambahan 63 kasus dan total 1.653 kasus. Kayong Utara juga bertambah 63 kasus, sehingga total mencapai 1.190 kasus.
Mempawah mencatat tambahan 40 kasus dengan total 17.771 kasus. Kapuas Hulu bertambah 22 kasus dan mencapai 10.823 kasus.
Sambas mencatat tambahan 17 kasus dengan total 1.115 kasus, sedangkan Sanggau bertambah 14 kasus dan mencapai 9.085 kasus. Bengkayang mencatat tambahan 95 kasus dari data sebelumnya 58 kasus sehingga total mencapai 153 kasus.
Direktur Teraju Foundation, Tomo, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan data terbaru bersama tim lapangan serta sumber data kesehatan pemerintah.
“Sumber data kami dari Dikes dan Kementerian. Data kami masih terkumpul dari tim lapangan yang kini masih di lapangan, ikut pemadaman api dan sebar bantuan,” kata Tomo kepada ruai.tv, Senin (14/9/2026).
Data tersebut menunjukkan kasus ISPA menjadi salah satu dampak kesehatan yang tercatat selama karhutla berlangsung. Kelompok anak dan masyarakat yang beraktivitas pada wilayah terdampak asap turut masuk dalam pencatatan kasus kesehatan.
Untuk mengurangi paparan asap, Teraju Foundation menyarankan agar masyarakat dapat menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika udara berasap. Masyarakat juga dapat mengurangi aktivitas luar ruang saat kualitas udara mencapai kondisi tidak sehat.
Upaya menjaga kualitas udara dalam rumah juga dapat dilakukan dengan menutup celah masuknya asap serta menggunakan penyaring udara jika tersedia. Konsumsi air putih yang cukup juga dapat membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan. (RED)















Leave a Reply