JAKARTA, RUAI.TV – Indonesia menghadapi ancaman El Niño dengan intensitas sangat kuat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG mencatat indeks Niño 3.4 mencapai plus 2,19, lebih tinggi dibandingkan kondisi pada 2015 yang berada di kisaran plus 1,5 pada periode Juli hingga September.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan kondisi tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Selasa (18/8/2026). Menurutnya, angka tersebut menunjukkan El Niño tahun ini memiliki kekuatan yang perlu mendapat perhatian serius karena dapat mengurangi curah hujan dan meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
“Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” kata Raja Juli.
El Niño terjadi ketika suhu muka laut di Samudra Pasifik berada lebih hangat dibandingkan kondisi normal. Fenomena ini dapat mengurangi curah hujan di Indonesia dan membuat kondisi lahan semakin kering.
Ancaman tersebut berpotensi meningkat ketika Indian Ocean Dipole atau IOD memasuki fase positif pada September hingga November 2026.
Kondisi iklim tersebut mulai berdampak pada karhutla. Kementerian Kehutanan mencatat luas lahan terbakar sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencapai sekitar 202 ribu hektare.
Dari jumlah tersebut, sekitar 57 persen atau 115.896 hektare berada di kawasan hutan, sedangkan 43 persen lainnya berada di area penggunaan lain atau APL.
Meski angka tersebut masih jauh di bawah catatan 2015, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan. Pada 2015, luas karhutla mencapai sekitar 2,61 juta hektare, sedangkan pada 2019 mencapai 1,6 juta hektare dan pada 2023 sekitar 1,16 juta hektare.
Raja Juli mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan El Niño bersama BMKG sekaligus memperkuat langkah mitigasi untuk mencegah karhutla meluas.
“Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api,” tegasnya.
Fenomena El Niño 2026 juga datang lebih cepat dari pola siklus empat tahunan yang sebelumnya tercatat pada 2015, 2019 dan 2023.
Dengan pola tersebut, El Niño berikutnya semestinya terjadi pada 2027. Namun, fenomena tersebut justru muncul satu tahun lebih awal.(dig/tvp/ts)















Leave a Reply