SINTANG, RUAI.TV – Kemarau panjang kembali memperberat kehidupan masyarakat pedalaman Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Surutnya Sungai Kayan-Masau membuat akses transportasi sungai semakin sulit, sementara jalur darat belum tersedia untuk menghubungkan masyarakat dengan pusat kecamatan.
Kondisi tersebut membuat perjalanan menuju Desa Tapang Menua yang dalam kondisi normal hanya membutuhkan sekitar dua jam, kini dapat berlangsung antara empat hingga tujuh hari.
Masyarakat harus mengandalkan jalur sungai untuk membawa kebutuhan pokok maupun menjalankan aktivitas sehari-hari. Saat debit sungai terus menurun, perjalanan menjadi semakin lambat karena perahu harus melewati sejumlah bagian sungai yang dangkal.
Situasi itu turut memicu kenaikan harga kebutuhan pokok. Biaya angkutan dan lamanya perjalanan membuat harga sejumlah kebutuhan masyarakat melonjak jauh dari harga pada pusat kecamatan.
Edi, salah seorang masyarakat Kayan Hulu, menyebut harga BBM subsidi saat ini dapat mencapai Rp35 ribu per liter atau lebih. Sementara itu, harga LPG subsidi ukuran tiga kilogram mencapai Rp80 ribu per tabung.
“BBM subsidi bisa mencapai Rp35 ribu per liter, sedangkan LPG tiga kilogram mencapai Rp80 ribu,” kata Edi, Sabtu 29 Agustus 2026.
Menurut Edi, masyarakat juga harus menghabiskan beberapa malam selama perjalanan sungai untuk membawa kebutuhan pokok menuju kampung.
Kondisi tersebut semakin berat ketika kemarau berlangsung panjang karena warga kawasan hulu sungai menghadapi risiko kesulitan memperoleh bahan kebutuhan sehari-hari.

Selain persoalan transportasi dan mahalnya kebutuhan pokok, masyarakat Kayan Hulu juga menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Edi menyebut sejumlah kampung masih menghadapi keterbatasan akses jalan, listrik, serta jaringan telekomunikasi.
“Masyarakat pedalaman belum menikmati kemerdekaan seperti masyarakat lain karena akses jalan, listrik, dan jaringan komunikasi belum tersedia,” ujarnya.
Edi menilai masyarakat membutuhkan langkah nyata pemerintah untuk membuka akses transportasi alternatif, terutama jalur darat. Menurutnya, keberadaan akses tersebut dapat membantu masyarakat keluar dari ketergantungan terhadap jalur sungai yang sangat terpengaruh kondisi musim.
Sebagai bentuk penyampaian aspirasi, masyarakat juga mengibarkan bendera tiga warna atau bendera Dayak besar sebagai simbol perjuangan warga pedalaman.
Masyarakat menyatakan siap menyambut pihak pemerintah maupun aparat yang ingin melihat langsung kondisi tersebut. Mereka meminta pemerintah menempuh jalur yang sama agar dapat merasakan langsung tantangan transportasi yang masyarakat hadapi saat musim kemarau.
“Silakan datang melalui jalur air seperti kami, lalu kami meminta kepastian pemerintah membuka akses bagi masyarakat pedalaman,” kata Edi.
Keluhan serupa muncul dari Noven, seorang pemuda asal Kecamatan Kayan Hulu. Ia menyebut pembangunan infrastruktur dasar masih menjadi persoalan utama bagi masyarakat kawasan hulu Sungai Kayan.
Menurut Noven, masyarakat tidak hanya menghadapi keterbatasan jalan dan jembatan, tetapi juga belum memperoleh akses listrik serta jaringan komunikasi secara memadai.
“Bukan hanya jalan dan jembatan, listrik serta jaringan komunikasi juga belum tersedia,” ujar Noven.
Kondisi tersebut menunjukkan tantangan yang masyarakat pedalaman Kayan Hulu hadapi bukan hanya saat kemarau. Ketergantungan terhadap jalur sungai membuat mobilitas dan pemenuhan kebutuhan pokok sangat bergantung pada kondisi alam.
Masyarakat berharap pemerintah menghadirkan solusi akses transportasi yang mampu menjangkau kawasan pedalaman secara lebih permanen, sehingga kebutuhan pokok, mobilitas warga, serta layanan dasar tidak terus bergantung pada kondisi Sungai Kayan-Masau. (dig/ts)















Leave a Reply