Arsip

Limbah PT MKS Diduga Cemari Sungai, Ikan Mati Massal, Warga Terserang Gatal dan Batuk

Ikan di Alisan Sungai Sekayam dan Ketunggau Hulu habis mati akibat dampak limbah yang mencemari dua daerah tersebut. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

SINTANG, RUAI.TV – Warga di Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, dan Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, mengeluhkan pencemaran sungai yang mereka gunakan untuk mandi, mencuci, dan kebutuhan air minum.

Warga menduga limbah milik PT Mitra Karya Sentosa (PT MKS) mencemari aliran sungai selama tiga hari terakhir. Warga melaporkan dampak pencemaran itu langsung terasa di sejumlah wilayah, mulai dari Sungai Daun, Melengang, Sebelo, Sungai Surya hingga kawasan Sepiluk dan Senaning.

Pencemaran tersebut memicu kematian ikan dalam jumlah besar di sepanjang aliran sungai di dua kabupaten tersebut. Warga bahkan menemukan bangkai ikan dalam kondisi mengapung dan terbawa arus.

Advertisement

Selain kerusakan ekosistem, warga juga menghadapi ancaman kesehatan. Sejumlah warga mengalami gatal-gatal dan batuk setelah menggunakan air sungai yang tercemar. Kondisi ini memaksa warga mencari sumber air alternatif dari sungai kecil di sekitar permukiman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Gambar: Warga menggunakan sampan mengambil ikan-ikan yang mati di aliran sungai meski mengamcam kesehatan masyarakat. (Foto/truai.tv)

Selono, warga Sungai Surya, Kecamatan Ketungau Hulu, Kabupaten Sintang, mengaku merasakan langsung dampak pencemaran tersebut. Ia mengalami gangguan kesehatan setelah menggunakan air sungai.

“Kami mengalami gatal-gatal setelah mandi di Sungai Saih. Ternyata Sungai Saih itu ada kebocoran limbah pabrik perusahaan PT MKS di hulu desa kami. Saat ini kami juga mulai batuk, sudah satu hari ini batuk. Ikan-ikan juga banyak yang mati, berton-ton yang mati di sungai,” ujar Selono kepada ruai.tv, Kamis (02/4).

Warga juga tetap mengambil ikan mati dari sungai meski mereka menyadari risiko kesehatan yang mengintai. Kondisi tersebut menunjukkan keterdesakan warga akibat terbatasnya sumber pangan dan air bersih.

Selono menyebut kejadian ini bukan yang pertama. Ia menilai kebocoran limbah dari perusahaan tersebut sudah pernah terjadi sebelumnya, bahkan kali ini ia rasakan sebagai yang terparah. Ia juga menyoroti tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah maupun otoritas terkait terhadap perusahaan.

Merespons kondisi tersebut, pengurus adat bersama pemerintah desa langsung mendatangi pihak perusahaan untuk meminta pertanggungjawaban. Masyarakat adat di wilayah terdampak berencana menjatuhkan sanksi adat kepada PT MKS sebagai bentuk protes atas pencemaran lingkungan.

Gambar: Masyarakat terdampak limbah diduga dari PT Mitra Karya Sentosa menggelar pertemuan minta pertangungjawaban pihak Perusahaan. (Foto/ruai.tv)

Warga mendesak pemerintah segera mengambil langkah hukum dan memberikan sanksi tegas sesuai peraturan yang berlaku. Mereka menilai pencemaran ini berdampak panjang karena warga tidak dapat menggunakan air sungai dalam waktu yang lama hingga kondisi benar-benar pulih.

Warga berharap pemerintah hadir dan melindungi hak masyarakat atas lingkungan yang bersih serta aman untuk kehidupan sehari-hari.

Advertisement