Misa Imlek, Ini Pesan Uskup Agung Pontianak

Foto: courtesy channel Youtube Katedral Santo Yosef Pontianak

PONTIANAK, RUAI.TV – Umat Katolik dari komunitas Tionghoa di Kalimantan Barat, mengikuti misa syukur yang diselenggarakan khusus dalam momen Imlek 2572, Jumat (12/02/2021). Misa serupa juga digelar di sejumlah gereja Katolik, dengan pembatasan jumlah umat dan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Di Paroki Santo Yosef Katedral, Pontianak, misa dipimpin oleh Uskup Agung Pontianak, Mgr Agustinus Agus. Dia didampingi lima pastor dan mereka mengenakan masker selama misa berlangsung.

Untuk melayani umat yang tidak bisa hadir, petugas melakukan siaran live streming melalui channel Youtube.

Beberapa saat sebelum menyampaikan kotbah, Uskup Agustinus tampak menyemprotkan cairan sanitizer ke microphone di mimbar yang hendak digunakannya.

“Kita sedang berada dalam tahun-tahun mencekam yang membawa banyak malapetaka. Saat ini kita dalam suasana menjalin persahabatan dengan Covid-19. Jadi tidak bisa merayakan Imlek seperti biasanya,” ucap Uskup Agustinus mengawali kotbahnya.

Baca juga:
Konyen, Apa Sih Artinya?
Bambu Hoki, Si Hijau di Antara Nuansa Merah
Imlek Telah Tiba, Begini Ucapan Selamatnya
Imlek Saat Pandemi, Rekatkan Keluarga

Suasana pandemi, kata Uskup Agustinus, membuat banyak ungkapan lahiriah tidak bisa dinampakkan. Misalnya, berkunjung ke rumah-rumah seperti tahun sebelumnya.

“Ungkapan lahiriah bolehlah dibatasi. Tapi nilai rohani dalam Imlek tentu tidak hilang,” ucap Uskup.

Bagi dia, banyak nilai luhur, nilai kemanusiaan, nilai berbagi, nilai sosial, nilai pesatuan, dan nilai persaudaraan yang terkandung dalam momen Imlek. Pembatasan sosial akibat pandemi, tidak akan mengurangi maknanya.

“Imlek artinya berbagi rejeki. Mengungkapkan semangat persaudaraan. Biasanya anak-anak kecil senang mengunjungi sebanyak mungkin orangtua, agar banyak angpau-nya,” tutur Uskup Agustinus sambil tersenyum.

Dia mengingatkan, setiap shio punya tahun keberuntungan sendiri-sendiri. Tidak ada satu shio pun yang beruntung terus, atau mengalami kerugian terus-menerus.

“Meskipun ini tahun keberuntungan, kalau tidak bekerja, ya tidak dapat apa-apa. Tuhan menciptakan manusia dengan sangat adil. Dalam perputaran tahun, semua shio mempunyai masanya sendiri-sendiri, tinggal bagaimana kita menyikapinya,” kata Uskup Agustinus.

Setelah misa selesai, umat mempersembahkan jeruk besar untuk Uskup Agung yang sudah berusia 71 tahun itu. Umumnya, jeruk besar diberikan saat Imlek untuk orang yang sudah lanjut usia. (SVE)