Misa Inkulturasi, Tradisi Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Lingga

Tarian tradisi saat pembukaan misa. Fotol: DOK/ruai.tv

KUBU RAYA, RUAI.TV – Misa perayaan Paskah berlangsung di mega tenda Gereja Katolik Santo Fransiskus Asisi Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (04/04/2021).

Misa belum bisa dilakukan di dalam gereja, karena masih dalam tahap pembangunan.

Untuk menghindari penyebaran Covid-19, umat yang hadir wajib menerapkan protokol kesehatan. Umat terlebih dahulu diminta mencuci tangah, setelah itu wajib mengenakan masker dan menjaga jarak, selama misa berlangsung.

Ada yang tetap dijaga pada misa Paskah ini, yaitu inkulturasi budaya atau dengan tetap memasukkan unsur budaya dalam perayaannya.

Baca juga: Pesan Paskah Uskup Agung Pontianak: Bangkit dari Kegelapan Menjadi Manusia Baru

Saat misa hendak dimulai, pastor, para petugas liturgi, dan putra-putri altar, disambut dengan tarian adat.

Selain itu, umat yang hadir membawa peralatan dan hasil padi (buah sulung). Barang-barang itu kemudian diberkati oleh pastor, dengan harapan proses bertani selanjutnya menghasilkan panen lebih baik lagi.

Hasil panen umat dari ladang. Foto: DOK/ruai.tv

Dalam khotbahnya, Pastor Lukas Ahon B, CP sangat menegaskan kepada umat, untuk selalu memperhatikan protokol kesehatan, karena sesuai dengan tema paskah tahun ini “Semakin Beriman, Semakin Solider”.

“Tema ini mempunyai inti sari kata aolider, dengan mematuhi Prokes berarti sudah solider,” ujar Pastor Lukas Ahon.

Baca juga: 1.300 Personel Polda Kalbar Amankan Paskah

Pastor juga kembali mengingatkan kepada orang muda katolik (OMK), untuk tidak terlibat ilmu kebal dan mengikut segala macam praktik-praktiknya. Dia meminta dukungan agar para orangtua terus mendukung OMK dan meninta orang muda terlibat aktif dalam proses hidup menggerja, karena orang muda adalah tulang pungung gereja.

Sejumlah aparat TNI dan Polri ikut mengamankan jalannya misa, bersama para anggota OMK.

Usai misa, perayaan dilanjutkan dengan acara ramah tamah makan bersama yang disiapkan oleh masing-masing lingkungan (kring) dengan menu yang berbeda. Menu yang tak pernah ditinggalkan, makan khas lemang dan tumpi’ atau cucur. (*/RAY)