KUBU RAYA, RUAI.TV – Bupati Kubu Raya Sujiwo meminta penyelenggara membatalkan rencana pameran bertajuk ‘Sawit Terbesar’ dalam rangka Medbun Ekspo yang akan berlangsung di Hall Qubu Resort, 22–23 September 2026.
Sujiwo menilai waktu pelaksanaan pameran kurang tepat. Saat ini Kubu Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Barat masih menghadapi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga kabut asap.
Menurut Sujiwo, kondisi tersebut membuat pemerintah bersama berbagai pihak masih harus bekerja keras menangani karhutla dan memenuhi kebutuhan air masyarakat.
“Nah kita sudah komunikasikan, timing ini tidak tepat. Di saat kondisi seperti ini sedang mengalami kekeringan, pontang-panting memadamkan api, lalu mau digelar pameran pula,” tegas Sujiwo, Senin (14/9/2026).
Pameran tersebut masuk dalam rangkaian kegiatan Medbun Ekspo yang mengusung sektor perkebunan. Media Perkebunan (Medbun) Ekspo berkolaborasi dengan Indonesian Palm Oil Smallholders untuk menggelar kegiatan tersebut.
Sujiwo mengatakan Pemkab Kubu Raya telah berkomunikasi dengan pihak terkait, termasuk kementerian, agar penyelenggara mempertimbangkan kembali rencana pameran tahun ini.
Menurutnya, persoalan karhutla dan kabut asap saat ini juga membuat publik menyoroti sektor perkebunan sawit.
Ia tetap mengakui kontribusi industri perkebunan terhadap perekonomian. Namun, kondisi masyarakat saat ini, menurutnya, membutuhkan empati dari seluruh pihak.
“Situasi seperti ini kan ada dikait-kaitkan dengan perkebunan sawit, walaupun kita juga harus melihat dari sisi positifnya. Tetapi dengan segala pertimbangan, kami sudah berkomunikasi dengan pihak kementerian agar dibatalkan,” katanya.

Soroti Kondisi Masyarakat
Sujiwo menilai penyelenggara perlu mempertimbangkan kondisi masyarakat sebelum menggelar kegiatan berskala besar dengan tema sawit.
Kekeringan masih membuat sebagian masyarakat kesulitan memperoleh air bersih. Pada saat yang sama, sejumlah wilayah juga masih menghadapi kabut asap akibat karhutla.
Menurut Sujiwo, penyelenggaraan pameran sawit dalam situasi tersebut berpotensi memunculkan persepsi kurang baik di tengah masyarakat.
“Karena ini bentuk empati kita dengan kondisi seperti ini. Asap masih pekat, air masih susah,” ujarnya.
Sujiwo menegaskan sikap Pemkab Kubu Raya bukan bentuk penolakan terhadap kegiatan yang berkaitan dengan sektor perkebunan. Ia justru membuka ruang dukungan apabila kondisi lingkungan dan masyarakat sudah kembali normal.
Ia menyebut Pemkab Kubu Raya tetap memberikan dukungan terhadap kegiatan serupa pada tahun sebelumnya. Namun, kondisi tahun ini membuat pemerintah daerah meminta penyelenggara menunda pelaksanaan pameran.
“Nah kalau sudah normal, maka seperti tahun lalu tetap kita berikan support juga. Kalau tahun ini mohon maaf, kita batalkan ya Pak Dirjen,” pungkasnya. (RED)















Leave a Reply