Arsip

Satwa Liar di Laman Satong “Ngungsi” ke Pemukiman Warga

Seekor tarsius atau kera hantu (Lt: Cephalopachus bancanus) sesaat setelah dirilis di hutan Dusun Laman Satong, Kabupaten Ketapang. Foto: ruai.tv/dok

Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.

Satwa liar yang biasanya hidup tenteram di tengah hutan Kalimantan, kini mulai berani mendekati pemukiman warga. Dalam kondisi normal, satwa liar ini umumnya menjauh dari kumpulan manusia.

Namun terpaan kabut asap akibat masifnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), membuat mereka tak punya banyak pilihan. Pemukiman warga menjadi tujuan “mengungsi”. 

Advertisement

Di Dusun Kepayang, Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, warga tak menyangka akan kedatangan “tamu” unik. Seekor hewan yang oleh lokal dikenal sebagai “ingkar”–atau dalam Bahasa Indonesia disebut tarsius barat, tiba-tiba nangkring di garasi mobil. 

Sepintas, hewan ini agak menyeramkan. Itu sebab, sebutan tak resminya adalah “kera hantu”. Sementara nama Latin-nya Cephalopachus bancanus

Baca juga:

Netizen Msia “Semprot” RI Soal Kabut Asap: Tetangga Macam Apa Anda! 

Ciri yang paling mendominasi wajahnya yakni sepasang mata bulat berukuran sangat besar. Keunikan lain, tarsius punya kemampuan memutar kepalanya hingga 180 derajat ke kanan dan ke kiri.

Warga Dusun Kepayang, Cornelis, kepada redaksi ruai.tv, Minggu (20/09/2026) menuturkan, hewan ini ditemukan tetangganya, Dimas, di garasi mobil pada Sabtu (19/09/2026). Kemungkinan tarsius ini menghindari dari kabut asap pekat di hutan seberang jalan. 

“Setelah tetangga saya menemukannya, dia menghubungi petugas di suatu balai penyelamat satwa,” kisah Cornelis. 

Namun petugas di balai tersebut sedang sibuk mengevakuasi orangutan di area lain yang masih masih kawasan desa itu. Tetangganya itu pun mengirim foto tarsius ini ke petugas balai. 

Baca juga:

Apa Arti PM2.5? Debu Karhutla Tak Bisa Disaring Bulu Hidung Manusia!

“Menurut petugas, kondisi hewan ini masih cukup sehat dan kuat. Mereka menyarankan tetangga saya merilis kembali hewan ini ke tempat yang aman,” ujar Cornelis. 

Dusun Laman Satong “dibelah” oleh jalur Trans Kalimantan KM 20. Orang menyebutnya Ruas Siduk-Nanga Tayap. 

Bagian di seberang jalan merupakan kawasan hutan yang termasuk areal penyangga Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Hutan itu juga diterpa karhutla dengan kabut asap yang memerihkan mata dan menyelimuti pemukiman. 

“Di belakang rumah kami, ada hutan yang tidak telalu besar dan tidak kena kebakaran. Di situlah tetangga saya melepaskan hewan tadi,” ucap Cornelis. 

Kabut asap menyelimuti jalur Trans Kalimantan Trans Kalimantan KM 20 ruas Siduk-Nanga Tayap di Desa Laman Satong, Ketapang. Foto: ruai.tv/dok

Tak hanya tarsius, warga setempat sempat memergoki tiga ekor kelempiau atau Owa Kalimantan. Satwa ini terpantau menyeberangi jalan menghindari panasnya karhutla dan “serangan asap”. 

Baca juga:

Menurun Drastis, Panen Sayuran Petani Pontianak Utara

Namun satwa yang lincah bergerak ini memilih tidak “bertamu” ke rumah warga. Sifat liarnya membawa mereka berlindung di kawasan hutan seberang jalan yang masih relatif aman. 

Cornelis menduga, kedatangan kelempiau ini karena di area belakang rumah warga ada kebun pisang. Buah ini merupakan makanan kesukaan primata lucu ini. 

Kelempiau memiliki nama Latin Hylobates albibarbis. Primata ini memiliki keunikan karena sama sekali tidak memiliki ekor. 

Hidupnya terancam tidak saja karena karhutla. Ciri fisiknya cukup menggemaskan untuk jadi hewan peliharaan. 

Tetapi daftar merah IUCN menetapkan Kelempiau Kalimantan dalam status Endangered (EN) sejak 2008. Status ini berada di atas kategori rentan atau vulnerable. 

Dengan status ini, kelempiau ini menghadapi risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam liar dalam waktu dekat. Selain akibat hilangnya habitat asli, juga terancam perburuan liar. (dig/hep)

Advertisement