Arsip

Detik-detik Heli Chinook Jepang Jatuhkan Bom Air di Kalimantan

Helikopter angkut berat CH-47 Chinook milik Angkatan Darat Pasukan Bela Diri Jepang (JGSDF) yang dikerahkan ke Kalimantan. Foto: X/@jjoc_pa

Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.

Sebagian warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) telah mendengar riuh rendahnya suara baling-baling helikopter di angkasa. Kabut asap masih menghalangi sehingga benda canggih itu kerap tak terlihat.

Setelah sempat tertunda beberapa hari, kini armada pemadam Jepang mulai beraksi! Akun X resmi @jjoc_pa (Joint Operations Command) merilis dokumentasi visual terkait operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalbar, melalui unggahan pada Kamis (17/09/2026).

Advertisement

Unggahan ini memperlihatkan visualisasi helikopter angkut berat CH-47 Chinook milik Angkatan Darat Pasukan Bela Diri Jepang (JGSDF). Visual yang dibagikan menunjukkan helikopter tersebut membawa alat penampung air raksasa di bawah lambung pesawat yang dikenal dengan istilah Bambi Bucket

Baca juga: 

Sehebat Apa Heli Jepang CH-47 Chinook? Cek di Sini!

Helikopter ini menggunakan tipe kantung air khusus yang memiliki kapasitas angkut mencapai 5.000 hingga 7.500 liter air dalam sekali angkut. Dari atas helikopter, terekam detik-detik menjatuhkan bom air di di atas lahan yang terbakar.

Pernyataan Resmi Kementerian Pertahanan Jepang

Melalui rilis pers resmi yang disiarkan oleh Kementerian Pertahanan Jepang (Japan Ministry of Defense) di situs mod.go.jp pada 16 September 2026, pemerintah Jepang secara formal mengonfirmasi dimulainya operasi udara tersebut. 

Dalam rilis bertajuk “International Disaster Relief Activities in the Republic of Indonesia”, dinyatakan, helikopter angkut CH-47 milik JGSDF telah memulai operasi pemadaman kebakaran di dalam dan sekitar wilayah Pontianak. 

Pihak Kementerian Pertahanan bersama Pasukan Bela Diri Jepang menegaskan komitmennya untuk mengerahkan segala upaya guna mencegah perluasan dampak bencana, dengan tetap memprioritaskan keselamatan seluruh personel di tengah kondisi lapangan yang dinilai sangat berat.

Baca juga: 

11 Hari Kapal Jepang Berlayar ke Kalbar Bawa 3 Heli dan 180 Tentara

Penampung air raksasa di bawah lambung Helikopter CH-47 Chinook yang dikenal dengan istilah Bambi Bucket. Foto: X/@jjoc_pa

Kendala Operasional di Lapangan

Tim Tanggap Darurat Internasional Jepang sebenarnya telah tiba di Kalbar sejak 10 September. Mereka mengangkut armada dan personel melalui kapal pendarat amfibi JS Kunisaki yang bersandar di Pelabuhan Internasional Kijing, Mempawah, untuk kemudian menyiagakan helikopter di Lanud Supadio, Pontianak.

Meskipun sudah tiba sejak pertengahan pekan, tim gabungan belum bisa langsung menerjunkan helikopter ke lokasi titik api. Operasi udara sempat tertahan dan tertunda selama beberapa hari akibat kondisi jarak pandang (visibility) yang sangat rendah yang disebabkan oleh kepungan kabut asap pekat di sekitar area penerbangan. 

Baca juga: 

Visibility Rendah, Water Bombing dan Uji Terbang Helikopter Jepang Tertunda

Setelah kondisi udara dan jarak pandang dinyatakan aman untuk penerbangan rendah, operasi pemadaman udara ini akhirnya resmi dimulai pada 16 September. Dalam menjalankan misi ini, tim militer Jepang bekerja sama erat dan berkolaborasi langsung dengan unsur-unsur Pemerintah Indonesia di lapangan, untuk mempercepat proses lokalisir titik api.

Heli raksasa ini menjadi andalan di medan-medan yang sulit dijangkau lewat jalur darat. (dig/hep)

Advertisement