Arsip

Bapinta Ujat’n, Ikhtiar Masyarakat Adat Dayak Memohon Turun Hujan

Persembahan kepada Leluhur pada Ritual Adat Bapinta Ujat’n dalam tradisi Masyarakat Adat Dayak Kanayatn. (Foto/ruai.tv)

PONTIANAK, RUAI.TV – Kemarau panjang dan minimnya curah hujan mulai memengaruhi kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut turut berdampak terhadap kesehatan, pekerjaan, pertanian, dan perladangan.

Menyikapi kondisi itu, Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak menggelar ritual adat Bapinta Ujat’n di Panyugu, Rumah Betang Sutoyo, Pontianak, Kamis (17/9/2026). Ritual tersebut menjadi bagian dari ikhtiar masyarakat adat untuk memohon turunnya hujan.

Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, mengatakan pelaksanaan Bapinta Ujat’n merupakan bentuk kepedulian masyarakat adat terhadap kondisi alam yang berlangsung saat ini.

Advertisement

“Kami dari DAD Kota Pontianak melaksanakan adat Bapinta Ujat’n. Kita telah merasakan dan melihat kondisi cuaca saat ini sangat berpengaruh, baik terhadap perasaan maupun masalah kesehatan kita,” kata Yohanes.

Murjani, seorang Penyahat’n sedang berdoa di Panyugu komplek Rumah Betang Sutoyo, Pontianak memohon hujan kepada leluhur. (Foto/ruai.tv)

Yohanes mengatakan pelaksanaan ritual tersebut mendapat dukungan Forkopimda Kota Pontianak. Ia berharap doa dan ikhtiar melalui prosesi adat dapat membawa hujan dalam waktu dekat.

“Kita berharap satu sampai dua jam ke depan hujan mulai bisa kita rasakan. Apa pun yang kita lakukan, kembali kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Menurut Yohanes, Bapinta Ujat’n memiliki nilai sakral bagi masyarakat Dayak. Prosesi tersebut melibatkan Panyangahat’n yang menjalankan rangkaian ritual sesuai tata cara adat.

Panyugu, tempat Ritual Adat Bapinta Ujat’n oleh Masyarakat Adat Dayak Kota Pontianak. (Foto/ruai.tv)

Sementara itu, Sekretaris Umum Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat, Thadeus Yus, mengapresiasi langkah DAD Kota Pontianak dalam melaksanakan ritual tersebut. Ia menyebut Bapinta Ujat’n sebagai satu diantara bentuk kearifan lokal masyarakat Dayak dalam menyikapi kondisi alam.

“Kita menghadapi situasi yang sudah hampir tiga bulan. Hujan tidak ada, berdampak kepada kesehatan, pekerjaan, pertanian, ladang, dan sebagainya,” kata Thadeus.

Thadeus juga mengimbau DAD kabupaten dan kota se-Kalimantan Barat turut melaksanakan tradisi serupa sebagai bagian dari ikhtiar masyarakat adat menghadapi kemarau panjang dan kabut asap.

“Gunakan kearifan lokal kita untuk membantu mengatasi masalah. Kita tidak punya teknologi seperti yang dilakukan pemerintah, tapi kita bisa menggunakan budaya kita, yaitu melakukan acara ritual seperti pada pagi ini,” ujarnya.

Ia menegaskan ikhtiar melalui tradisi adat dapat berjalan bersama upaya pemerintah dalam menghadapi dampak kemarau. Bapinta Ujat’n sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat adat untuk menjaga tradisi sekaligus menyampaikan doa dan harapan kepada Jubata agar hujan segera turun. (RED)

Advertisement