JAKARTA, RUAI.TV – Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan setelah pemantauan terbaru menunjukkan kenaikan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence.
Penguatan operasi udara kini mendapat dukungan Pemerintah Jepang melalui tiga helikopter CH-47 Chinook. Ketiga helikopter milik Japan Ground Self-Defense Force (JGSDF) telah tiba di Kalimantan Barat dan siap mendukung operasi water bombing.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 688 hotspot high confidence secara nasional hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 21.15 WIB. Jumlah itu naik dari 569 titik pada 10 September 2026.
Kalimantan Tengah mencatat kenaikan paling tinggi antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla. Wilayah tersebut memiliki 271 hotspot high confidence, naik dari 96 titik sehari sebelumnya.
Kalimantan Barat juga mengalami kenaikan, dari 39 menjadi 51 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan naik dari 9 menjadi 47 titik.
Pada wilayah Sumatera, Sumatera Selatan mencatat 11 hotspot, turun dari 34 titik. Riau dan Jambi justru tidak mencatat hotspot high confidence. Riau sebelumnya memiliki 18 titik, sedangkan Jambi mencatat 2 titik pada pemantauan sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat Kalimantan Tengah menjadi perhatian utama dalam operasi pengendalian karhutla. Kementerian Kehutanan juga memperkuat operasi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak lainnya terus menjalankan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, dan pendinginan.
Pemerintah sebelumnya menyiagakan 53 unit armada udara untuk pengendalian karhutla pada enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada menjalankan operasi water bombing, sedangkan 19 armada menjalankan patroli udara serta mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Kini, tiga helikopter CH-47 Chinook asal Jepang memperkuat kemampuan operasi udara tersebut. Kapal JMSDF JS Kunisaki membawa ketiga helikopter itu hingga Terminal Kijing, Kalimantan Barat.
Tim teknis akan memastikan kesiapan serta keselamatan penerbangan melalui tahapan persiapan dan flight test sebelum helikopter menjalankan misi water bombing.
Dukungan Jepang turut melibatkan sekitar 180 personel. TNI memegang pengawasan operasional helikopter, termasuk aspek keamanan, flight clearance, dan penempatan Safety Officer. BNPB bersama pihak terkait mengoordinasikan misi penerbangan.
Kerja sama tersebut menjadi bagian dari kerja sama Indonesia-Jepang pada bidang Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).
Kehadiran tiga Chinook memperkuat kemampuan pemadaman udara, terutama untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit tertangani melalui operasi darat. Pemerintah mengintegrasikan dukungan Jepang dengan seluruh operasi pengendalian karhutla nasional.

Pemerintah menentukan pengerahan armada berdasarkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta kondisi meteorologis. OMC juga tetap siaga untuk memanfaatkan potensi awan yang memenuhi persyaratan guna membantu pembasahan lahan.
Pada ekosistem gambut, tim terus menjalankan pemadaman, pembasahan, dan pendinginan secara berkelanjutan. Bara api dapat bertahan pada lapisan bawah gambut meski permukaan sudah tidak menunjukkan kobaran.
Kementerian Kehutanan juga memantau kualitas udara melalui perkembangan PM2,5. Kondisi udara Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, sementara sejumlah area di Sumatera dan Kalimantan masih masuk kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Sejumlah wilayah Kalimantan bahkan menunjukkan kategori berbahaya. Kementerian Kehutanan memadukan pemantauan kualitas udara dengan perkembangan hotspot, kondisi api, sebaran asap, curah hujan, serta kondisi meteorologis untuk menentukan prioritas operasi.
Data BMKG pada 11 September 2026 menunjukkan jarak pandang di sejumlah wilayah masih berubah-ubah. Pemantauan BMKG pada kawasan Pelabuhan Dwikora, Pontianak, menunjukkan udara kabur dengan jarak pandang sekitar 1–3 kilometer pada beberapa periode pengamatan.
Kondisi tersebut menunjukkan pengaruh partikel udara masih menjadi perhatian di Kalimantan Barat. Sementara itu, Banjarmasin mencatat udara kabur dengan jarak pandang sekitar 4 kilometer pada awal periode pengamatan, lalu membaik hingga sekitar 10 kilometer seiring perubahan cuaca.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot hanya menunjukkan indikasi anomali suhu permukaan hasil deteksi satelit. Indikator tersebut tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran karena satu kejadian dapat menghasilkan beberapa hotspot.
Karena itu, tim gabungan tetap melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi aktual lapangan. Pemerintah juga membaca perkembangan hotspot bersama kondisi kebakaran, kualitas udara, cuaca, sebaran asap, serta jarak pandang.
Kementerian Kehutanan bersama seluruh pihak terkait terus memperkuat pemantauan dan pengendalian secara terpadu untuk mempercepat penanganan karhutla sekaligus mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan. (rls/RED)















Leave a Reply