SINTANG, RUAI.TV – Masyarakat Desa Tanah Merah, Kecamatan Kayan Hulu, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Kondisi jalan dan jembatan yang berstatus jalan kabupaten mendorong warga membangun akses secara swadaya agar aktivitas sehari-hari tetap berjalan.
Salah satu akses yang warga bangun berupa jembatan kayu sepanjang 35 meter yang membentang di Sungai Kumal. Warga memanfaatkan kayu alami dari lingkungan sekitar karena jembatan lama sudah mengalami kerusakan.
Wakil Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Kayan Hulu, Sangan, mengatakan masyarakat bergotong royong membangun jembatan tersebut untuk menjaga akses antarwilayah.
“Jembatan itu untuk menyeberangi Sungai Kumal, panjangnya 35 meter. Dulu ada jembatan, sekarang sudah rusak, maka kami bangun pakai kayu alami,” kata Sangan kepada Ruai TV, Rabu (12/8/2026).
Jembatan itu kini menjadi akses bagi warga dari tujuh desa, termasuk Desa Empahan, Tanjung Lalau, dan Merah Arai. Warga juga menggunakan jembatan tersebut untuk kendaraan roda dua serta aktivitas anak sekolah, terutama pelajar yang bersekolah di tingkat SMP di wilayah Lintang Tambuk.
Menurut Sangan, kondisi jalan menuju jembatan juga mengalami kerusakan. Sebagian ruas jalan bahkan sudah tertutup semak dan menyerupai hutan sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat.
Kemarau turut memberi kesempatan bagi warga untuk mengerjakan jembatan gantung tersebut karena debit Sungai Kumal menurun.
Namun, Sangan menyebut persoalan infrastruktur tidak hanya terjadi pada satu jembatan. Sejumlah jembatan dan ruas jalan lain di wilayah Kayan Hulu juga menghadapi kondisi serupa.

Lokasi jembatan berada di wilayah perbatasan Lintang Tambuk dan Tanah Merah. Bagi masyarakat, keberadaan akses tersebut memiliki peran penting karena menghubungkan sejumlah permukiman dan mendukung aktivitas pendidikan serta ekonomi warga.
Sangan mengatakan masyarakat telah berulang kali menyampaikan persoalan infrastruktur tersebut melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang.
Aspirasi serupa juga muncul dalam momentum Pilkada 2024 ketika sejumlah tokoh masyarakat menyatakan dukungan kepada salah satu pasangan calon dengan harapan pembangunan infrastruktur di wilayah mereka mendapat perhatian.
Pasangan yang mendapat dukungan masyarakat itu kini memimpin daerah. Sangan berharap komitmen pembangunan yang pernah mereka sampaikan dapat terealisasi sebelum masa jabatan berakhir.
“Ini disampaikan setiap Musrenbang. Sempat kontrak politik, kami sebagai tokoh-tokoh menyatakan sikap untuk mendukung salah satu calon, dan calon itu terpilih sekarang. Daerah kami menang juga,” ujar Sangan.
Kondisi jembatan kayu sepanjang 35 meter tersebut menjadi gambaran kebutuhan masyarakat terhadap akses infrastruktur dasar.
Warga memilih membangun secara mandiri agar hubungan antardesa tetap berjalan, sembari menunggu perhatian pemerintah terhadap kebutuhan jalan dan jembatan di wilayah Kayan Hulu. (ts)














Leave a Reply