Arsip

Pembangunan Durong, Tempat Penyimpanan Lumbung Pangan Masyarakat Adat

Jurong alias Durong, tempat penyimpanan lumbung Pangan Tradisional Khas Masyarakat Adat Dayak di Sekadau. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

SEKADAU, RUAI.TV – Di tengah perkembangan wilayah pinggiran Kota Sekadau yang terus bergerak menuju modernisasi, masyarakat Dusun Gonis Tekam, Kecamatan Sekadau Hilir, masih memegang erat akar budaya dan tradisi leluhur mereka.

Semangat menjaga warisan adat itulah yang kembali ditunjukkan Keluarga Besar Ms Group melalui pembangunan sebuah “Durong” atau lumbung tradisional khas Dayak yang berdiri kokoh di tengah permukiman warga.

Bangunan sederhana berbahan kayu lokal itu bukan sekadar simbol fisik, melainkan menjadi penanda kuat bahwa nilai kebersamaan, gotong royong, serta penghormatan terhadap leluhur masih hidup dan dijaga lintas generasi.

Di tengah arus perubahan zaman, keluarga besar Ms Group memilih menghadirkan kembali jejak budaya lama yang selama ini menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak.

Peresmian durong dilaksanakan, Minggu (17/5/2026) pagi. Dimulai dengan penyambutan tamu undangan dilanjutkan dengan ritual penyimpanan benda-benda peninggalan leluhur keluarga besar Ms Group ke dalam bangunan durong sebagai simbol penghormatan terhadap sejarah keluarga dan warisan nenek moyang.

Setelah itu dilakukan pengguntingan pita oleh Wakil Bupati Sekadau, Subandrio didampingi Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Sekadau Jeffray Raja Tugam kepala desa, serta tokoh masyarakat dan keluarga besar Ms Group.

Suasana peresmian berlangsung hangat dan penuh makna. Kehadiran tokoh adat, tokoh masyarakat, unsur pemerintah daerah hingga pimpinan perusahaan perkebunan dan PKS di wilayah Gonis Tekam menunjukkan bahwa pembangunan durong tersebut mendapat perhatian dan apresiasi luas dari berbagai pihak.

Ketua Panitia Pembangunan Durong, Petrus Yusuf Yono, mengatakan pembangunan durong dilakukan secara swadaya oleh keluarga besar Ms Group melalui semangat “bepupu” atau gotong royong keluarga.

Ia menjelaskan, bangunan durong dibuat dengan ukuran sekitar 4 x 2 meter dengan tinggi kurang lebih 2 meter menggunakan material lokal berbahan kayu. Bentuk bangunan sengaja dibuat menyerupai model durong tradisional masyarakat Dayak zaman dahulu, termasuk penggunaan atap kayu sebagai ciri khas arsitektur lama.

“Pembangunan ini memang kami upayakan tetap mempertahankan bentuk asli durong tradisional agar generasi muda bisa mengetahui bentuk bangunan leluhur pada masa lalu,” ujarnya.

Menurut Petrus, proses pembangunan memakan waktu lebih dari satu bulan dengan total anggaran mencapai sekitar lima puluhan juta yang seluruhnya dihimpun secara swadaya dari keluarga besar Ms Group.

Lebih dari sekadar bangunan, durong tersebut menjadi lambang persatuan keluarga besar Ms Group yang kini telah berkembang hingga generasi-generasi berikutnya.

“Durong ini menjadi simbol pemersatu keluarga besar kami. Harapannya, hubungan kekeluargaan tetap terjaga dan generasi penerus tidak melupakan akar sejarahnya,” katanya.

Ia menambahkan, keluarga besar Ms Group masih memiliki rencana lanjutan untuk melakukan pembenahan kawasan di sekitar bangunan durong agar lebih tertata dan dapat menjadi ruang bersama keluarga maupun masyarakat.

Wakil Bupati Sekadau, Subandrio, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kekompakan keluarga besar Ms Group yang dinilai mampu menjaga nilai adat dan budaya di tengah perkembangan zaman.

Menurutnya, keberadaan durong tidak hanya menjadi simbol kebersamaan keluarga, tetapi juga bentuk nyata pelestarian budaya Dayak yang patut dipertahankan.

“Dengan didirikannya durong ini, bukan hanya menjadi pengikat keluarga dan mempererat silaturahmi, tetapi juga menjaga semangat gotong royong yang menjadi ciri masyarakat kita,” ujarnya.

Ia menilai Desa Gonis Tekam yang berada di wilayah pinggiran kota masih mampu mempertahankan identitas budaya dan adat istiadat masyarakat Dayak dengan baik.

Subandrio juga berharap para sesepuh adat maupun orang tua di lingkungan masyarakat mulai melakukan pencatatan sejarah keluarga dan sejarah desa agar dapat diwariskan kepada generasi muda di masa mendatang.

“Sejarah keluarga, adat, maupun kawasan yang memiliki nilai budaya perlu didokumentasikan dengan baik. Dengan adanya pencatatan, pemerintah bisa ikut melakukan intervensi dan mendukung pelestarian aset budaya, baik benda maupun tak benda,” katanya.

Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kawasan hutan dan wilayah yang masih alami agar dapat dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat adat.

Ketua DAD Sekadau, Jeffray Raja Tugam, turut memberikan apresiasi terhadap inisiatif keluarga besar Ms Group dalam membangun durong keluarga.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk kepedulian nyata terhadap pelestarian budaya Dayak yang saat ini mulai jarang ditemukan.

“Durong ini bukan hanya sekadar bangunan, tetapi menjadi bagian dari sejarah keluarga dan identitas budaya masyarakat Dayak,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan durong tersebut berpotensi diusulkan sebagai cagar budaya melalui pemerintah daerah maupun lembaga adat. Bahkan ke depan, kawasan tersebut dapat berkembang menjadi objek wisata budaya apabila dilakukan penataan yang baik.

“Kalau kawasan sekitarnya ditata dengan baik, ini bisa menjadi salah satu potensi wisata budaya di Gonis Tekam,” katanya.

Djefrai juga berharap pembangunan durong keluarga Ms Group dapat menjadi contoh bagi keluarga besar lainnya untuk mulai kembali menjaga dan melestarikan peninggalan adat dan budaya leluhur.

Hal senada disampaikan tokoh masyarakat Gonis Tekam, Rizal Arafat. Ia menilai pembangunan durong tersebut menjadi langkah positif dalam menjaga identitas budaya masyarakat Dayak di tengah perkembangan zaman.

“Ini menjadi contoh baik bagi masyarakat lainnya agar tetap menjaga budaya dan adat istiadat. Ke depan, budaya seperti ini bisa menjadi aset daerah dan warisan penting bagi generasi berikutnya,” ujarnya.

Bagi masyarakat Dayak, durong atau yang juga dikenal dengan sebutan jurung maupun jurukng memiliki makna yang sangat penting dalam kehidupan sosial dan budaya. Durong merupakan lumbung tradisional tempat menyimpan padi hasil panen yang melambangkan kemakmuran dan ketahanan pangan keluarga.

Secara tradisional, bangunan durong dibuat berbentuk panggung dengan tiang-tiang tinggi yang dilengkapi penahan tikus untuk melindungi padi dari hama dan cuaca. Selain memiliki fungsi praktis, durong juga menyimpan nilai spiritual yang tinggi.

Dalam tradisi Dayak, proses menyimpan maupun mengambil padi dari jurung biasanya disertai ritual adat sebagai bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta. Padi dipandang bukan sekadar hasil pertanian, melainkan bagian penting dari kehidupan yang harus dihormati dan dijaga.

Melalui pembangunan durong keluarga besar Ms Group ini, masyarakat Gonis Tekam kembali diingatkan bahwa warisan budaya bukan hanya cerita masa lalu, tetapi bagian dari identitas yang perlu terus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.