PONTIANAK, RUAI.TV – Kabar duka datang dari dunia pendidikan, sosial, dan politik di Pontianak. Katharina Lies, S.Pd meninggal dunia pada Minggu, 17 Mei 2026 pukul 00.58 WIB di RSU St. Antonius Pontianak dalam usia 64 tahun.
Keluarga menyemayamkan jenazah di rumah duka di Jalan Mat Sainin No. D38, Jeruju, Kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat. Kepergian almarhumah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta masyarakat yang mengenal rekam jejak pengabdiannya.
Ia dikenal sebagai sosok yang menempatkan kepedulian kepada sesama sebagai bagian dari perjalanan hidupnya. Sejak usia muda, Katharina Lies menunjukkan karakter berani dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Keluarga mengenang sikapnya yang tidak ragu menyuarakan keadilan. Dalam salah satu peristiwa masa kecil, ia berdiri sendiri menyampaikan protes atas kejadian yang ia anggap tidak adil. Sikap itu kemudian terus ia bawa hingga dewasa dalam berbagai peran yang ia jalani.
Cita-cita awalnya mengarah pada dunia kesehatan. Ia sempat berupaya menjadi perawat, namun tidak lolos seleksi. Ia tidak menghentikan langkah, lalu mencoba bekerja sebagai Pembantu Orang Sakit (POS) dan kembali mengikuti seleksi.
Upaya tersebut belum membuahkan hasil. Ia kemudian mengalihkan jalan hidupnya ke dunia pendidikan dan memilih menjadi guru. Sebagai pendidik, Katharina Lies menjalankan tugas dengan dedikasi. Namun ia melihat ruang pengabdian yang lebih luas.
Ia mengambil keputusan besar dengan meninggalkan status sebagai aparatur sipil negara dan terjun ke dunia politik. Langkah tersebut membawanya terpilih sebagai anggota DPRD Kalimantan Barat periode 2004–2009 dari daerah pemilihan Sanggau–Sekadau.

Dalam perannya sebagai wakil rakyat, ia aktif menyuarakan kepentingan masyarakat, terutama kelompok rentan. Ia kerap turun langsung ke lapangan, termasuk pada malam hari, untuk merespons persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan anak.
Ia juga aktif dalam organisasi perempuan Dayak, termasuk pernah memimpin Perhimpunan Perempuan Dayak Kalimantan Barat. Selain itu, ia menjalankan peran sebagai Wakil Ketua Lembaga Perempuan Dayak Nasional Kalimantan Barat serta Wakil Ketua bidang pemberdayaan buruh, petani, dan nelayan pada Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional Kalimantan Barat.
Dalam berbagai organisasi tersebut, ia konsisten memperjuangkan pemberdayaan masyarakat adat dan kelompok marjinal. Dalam kehidupan keluarga, Katharina Lies dikenal sebagai sosok yang hangat dan penuh perhatian.
Ia merupakan istri dari Thadeus Yus, SH., MPA., yang menjabat sebagai Sekretaris Umum Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Barat. Ia juga ibu dari Filista Marten Parindu, SH., Joze Arimatea Pranata, SH., dan Pieter Andas Parinatha, SE., yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pemuda Dayak Kota Pontianak.
Keluarga mengenang perhatian sederhana yang selalu ia tunjukkan, seperti menyambut anggota keluarga yang pulang dengan masakan kesukaan. Ia juga berusaha mengisi peran keluarga setelah kepergian anggota keluarga lainnya.
Salah satu kerabat, Emy Ofang, menyampaikan bahwa almarhumah menunjukkan kegigihan dalam setiap aktivitas. “Beliau orang yang sangat gigih. Saat di DPRD dan di organisasi Dayak, beliau tidak pernah mundur dan tidak mengenal lelah. Beliau selalu aktif dalam setiap kegiatan dan setia mendampingi suami dalam menjalankan aktivitas organisasi,” ujarnya.

Emy juga menceritakan pertemuan terakhir pada 8 Mei 2026 saat mereka menerima kunjungan tamu dari Malaysia. Dalam kegiatan tersebut, almarhumah tetap aktif mendampingi rombongan hingga sore hari.
“Kami bersama sekitar 65 orang tamu berjalan-jalan di Sungai Kapuas. Beliau terlihat bersemangat, ikut bernyanyi dan berinteraksi dengan tamu. Tidak ada tanda-tanda beliau mengalami keluhan,” kata Emy.
Pada 9 Mei, almarhumah masih mengikuti rapat kerja organisasi. Keesokan harinya, keluarga menerima kabar bahwa ia menjalani perawatan di rumah sakit.
Kepergian Katharina Lies menutup perjalanan panjang seorang pendidik, aktivis, dan tokoh perempuan Dayak yang konsisten memperjuangkan kepentingan masyarakat. Keluarga menyampaikan permohonan doa agar almarhumah memperoleh tempat terbaik.
Jejak pengabdian yang ia jalani tercatat dalam berbagai peran yang ia emban sepanjang hidupnya, mulai dari dunia pendidikan, organisasi sosial, hingga lembaga legislatif.















Leave a Reply