PONTIANAK, RUAI.TV — Terik matahari terasa sangat menyengat di kawasan pertanian sayur di pinggiran Kota Pontianak, Kalbar. Di tengah hamparan lahan yang kian gersang, seorang petani sayur, Usmanto, tampak sedang bekerja merawat tanamannya.
Sumber air utama yang biasanya diandalkan kini berubah drastis. Kolam-kolam penampungan air untuk menyiram tanaman tampak kering kerontang hingga menyisakan dasar lumpur yang menipis.
Kondisi kritis menimpa sektor pertanian domestik akibat minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir di kawasan Kota Pontianak. Berkurangnya pasokan air memaksa para petani membatasi aktivitas penyiraman harian. Namun ini berdampak pada pertumbuhan sayur-mayur menjadi tidak optimal.
Sebagian besar komoditas tanaman mengalami kerusakan, layu, hingga mati massal. Memicu penurunan drastis pada volume hasil panen dibandingkan saat intensitas hujan masih tinggi.
“Aduh, sangat mempengaruhi (hasil panen) karena cuaca panas kayak gini. Air kita di kolam kita untuk menyiram air itu sangat tipis sekali, ndak ada sama sekali. Itu pertumbuhan sayur-mayur kita itu hidupnya kurang bagus. Banyak yang mati gitu kekeringan,” keluh Usmanto saat dijumpai ruai.tv di kebunnya, Selasa (04/08/2026)
Kondisi gersang di lapangan ini tampak jelas di kebunnya. Tanah kebun terlihat merekah dan mengeras.
Kondisi kekeringan yang menimpa para petani di pinggiran Kota Pontianak ini terkonfirmasi oleh peringatan dini cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Supasio Pontianak, Debi, kepada ruai.tv menyebut, meskipun ada potensi hujan lokal berintensitas ringan dalam tiga hari ke depan, cuaca secara umum akan didominasi oleh kondisi cerah dan berawan seiring datangnya musim kemarau.
“Untuk 10 hari ke depan, kami perkirakan wilayah Kalimantan Barat ini dominan berawan. Kami perkirakan untuk di bulan Agustus ini wilayah Kalimantan Barat masuk puncak musim kemarau,” papar Debi. (hep/cm)














Leave a Reply