PONTIANAK, RUAI.TV – Malam itu hujan kecil menggantung di langit Pontianak–Kubu Raya. Jalan menuju Kompleks Miari Residence 2 di Ambawang tampak tenang. Namun di sebuah rumah di ujung blok, percakapan tentang literasi, adat, politik kebudayaan, dan peradaban justru sedang menyala.
Kami datang bukan sekadar memenuhi undangan makan malam. Kami datang untuk bersilaturahim, menyambung ingatan, sekaligus membaca ulang jejak sejarah Kalimantan melalui tangan seorang tokoh Dayak: Drs. Yakobus Kumis, M.H, Sekjen MADN.
Di ruang itu hadir banyak tokoh. Ada wakil gubernur, para bupati, rektor, pastor, akademisi, pegiat literasi, pengusaha, hingga sahabat lama lintas daerah. Nama-nama seperti Prof. Agus Pakpahan, Dr. Yansen TP, Ir. Petrus Gunarso Ph.D, dan sejumlah tokoh lain berkumpul dalam suasana yang hangat namun penuh refleksi.
Tetapi malam itu, yang paling menarik perhatian saya justru bukan pidato, bukan hidangan makan malam, bahkan bukan daftar tamunya. Yang paling menyentuh adalah deretan keramik antik, tempayan tua, mangkuk celadon, dan guci-guci kuno yang memenuhi rumah Pak Yakobus Kumis.
Rumah itu terasa seperti museum kecil peradaban Kalimantan.
Di rak-rak kayu tersusun mangkuk tua berwarna hijau pucat. Ada guci besar dengan glasir coklat tua. Ada piring biru-putih khas Tiongkok. Ada tempayan yang menurut cerita pernah menjadi bagian dari sistem barter masyarakat pedalaman. Semua tersusun rapi, bukan sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai arsip kebudayaan.
Pak Yakobus menjelaskan satu per satu benda itu dengan mata yang berbinar. Ia tidak sedang berbicara tentang harga barang antik. Ia sedang bercerita tentang jalur perdagangan kuno, tentang sungai-sungai Kalimantan, tentang orang Dayak yang dahulu menjadikan tempayan sebagai simbol martabat keluarga, tentang keramik yang diwariskan lintas generasi seperti mewariskan kehormatan.
Di titik itu saya menyadari sesuatu: kadang sejarah tidak hidup di kampus, tidak pula di kantor pemerintahan. Ia hidup di rumah-rumah orang yang mencintainya.
Pak Yakobus Kumis tampaknya memahami bahwa benda antik bukan sekadar benda mati. Di dalam sebuah mangkuk tua tersimpan cerita tentang hubungan Tiongkok dan Nusantara. Di dalam sebuah tempayan tersimpan kisah perdagangan damar, emas, dan rempah. Di dalam sebuah piring tua tersimpan jejak migrasi manusia, pertukaran budaya, dan perjalanan spiritual masyarakat pedalaman.
Mungkin karena itu beliau tidak berhenti hanya menjadi kolektor. Ia menulis buku. Dua buku koleksinya tentang keramik kuno dan sejarah singkat Dinasti Tiongkok menunjukkan bahwa beliau ingin mengubah koleksi menjadi literasi. Dari benda menjadi pengetahuan. Dari barang menjadi peradaban.

Di era sekarang, ketika generasi muda lebih mengenal tren digital dibanding sejarah kampungnya sendiri, apa yang dilakukan Yakobus Kumis terasa penting. Kita sedang hidup dalam zaman yang cepat melupakan akar. Anak-anak muda hafal merek luar negeri tetapi tidak mengenal apa itu tempayan tajau. Kita bangga menjadi modern, tetapi pelan-pelan kehilangan kemampuan membaca simbol budaya sendiri.
Padahal bangsa besar tidak dibangun hanya oleh infrastruktur. Ia dibangun oleh kemampuan menjaga ingatan kolektifnya.
Saya teringat percakapan malam itu tentang Kongres Literasi Internasional I. Banyak orang mungkin memaknai literasi hanya sebagai kemampuan membaca buku. Tetapi di rumah Pak Yakobus, saya belajar bahwa literasi jauh lebih luas. Literasi adalah kemampuan membaca jejak sejarah. Membaca benda. Membaca simbol. Membaca warisan leluhur. Bahkan membaca diamnya sebuah tempayan tua yang telah menyaksikan pergantian generasi.
Dalam konteks Dayak Kalimantan, keramik antik memiliki posisi yang unik. Ia bukan hanya perlengkapan rumah tangga. Ia bagian dari struktur sosial dan budaya. Tempayan tertentu dahulu menjadi penanda status adat. Mangkuk tertentu digunakan dalam ritual. Ada pula yang diwariskan turun-temurun sebagai lambang kehormatan keluarga.
Karena itu, ketika benda-benda seperti ini hilang, sesungguhnya yang hilang bukan sekadar barang. Yang hilang adalah memori sosial masyarakat.
Di sinilah pentingnya para penggiat budaya seperti Yakobus Kumis. Ia tidak hanya berbicara tentang identitas Dayak dalam forum-forum adat atau sosial-politik-budaya. Ia juga menjaga artefak peradaban itu secara nyata. Ia mengumpulkan, merawat, mendokumentasikan, lalu menjelaskan kembali kepada generasi berikutnya.
Dan saya kira inilah bentuk nasionalisme kebudayaan yang sering kita lupakan.
Selama ini pembangunan sering diukur dengan beton, jalan, dan gedung. Padahal bangsa yang kehilangan memori budayanya lambat laun akan kehilangan arah peradabannya. Negara bisa kaya sumber daya, tetapi miskin identitas. Masyarakat bisa modern secara teknologi, tetapi kosong secara kebudayaan.
Karena itu saya melihat rumah Pak Yakobus Kumis malam itu bukan sekadar rumah pribadi. Ia adalah ruang perjumpaan antara masa lalu dan masa depan. Tempat di mana tradisi bertemu literasi. Tempat di mana adat bertemu intelektualitas.
Menariknya, pertemuan malam itu juga memperlihatkan sesuatu yang semakin langka di Indonesia: kemampuan tokoh-tokoh lintas latar belakang untuk duduk bersama tanpa sekat. Ada birokrat, akademisi, pastor, pegiat adat, pengusaha, dan politisi dalam satu meja makan. Semua dipersatukan oleh percakapan tentang budaya dan literasi.
Mungkin inilah yang sebenarnya sedang dicari Indonesia hari ini: ruang dialog yang hangat, berakar budaya, tetapi tetap terbuka pada masa depan.
Saya pulang malam itu dengan satu kesadaran sederhana. Bahwa menjaga kebudayaan ternyata tidak selalu harus dimulai dari proyek besar negara. Kadang ia dimulai dari rumah seseorang yang mencintai sejarah. Dari rak tua berisi mangkuk keramik. Dari buku kecil tentang Dinasti Tiongkok. Dari cerita seorang tokoh adat yang memahami bahwa identitas bangsa tidak boleh tercerabut dari ingatannya sendiri.
Di tengah dunia yang semakin digital, cepat, dan gaduh, rumah Yakobus Kumis mengajarkan satu hal penting: manusia boleh bergerak maju, tetapi jangan sampai kehilangan jejak asalnya. Sebab ketika sebuah bangsa berhenti menghormati sejarahnya, perlahan ia juga sedang kehilangan masa depannya.
Penulis : Prof.Gusti Hardiansyah, Guru Besar Fakultas Kehutanan Untan















Leave a Reply