PONTIANAK, RUAI.TV – Kabut asap semakin pekat dan membuat jarak pandang atau visibility turun drastis. Kondisi ini membuat Satgas Udara belum dapat menjalankan operasi water bombing serta uji terbang helikopter Jepang secara optimal.
Kasatgas Informasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Barat, Daniel, mengatakan Satgas Udara sempat merencanakan operasi udara pada malam sebelumnya. Namun, kondisi visibility yang sangat rendah membuat operasi tersebut harus menunggu perbaikan jarak pandang.
“Satgas udara memang malam tadi merencanakan operasi. Tetapi, melihat visibility yang sangat rendah, operasi udara belum dapat kita lakukan. Syarat operasi udara minimal visibility 2.000 meter. Normalnya, visibility berada pada kisaran 3.000 sampai 5.000 meter,” ujar Daniel, Minggu (13/9) pukul 12.50 WIB.
Menurut Daniel, kondisi jarak pandang saat ini sudah sangat rendah. Bahkan, kondisi tersebut terasa bukan hanya bagi penerbangan, tetapi juga bagi masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.
“Sekarang ini jangankan di udara, dalam rumah pun visibility sudah rendah,” katanya.
Satgas Udara terus memantau perkembangan jarak pandang. Daniel mengatakan operasi water bombing dan patroli udara dapat berjalan kembali saat visibility mencapai minimal 2.000 meter.
“Kalau visibility sudah meningkat sampai 2.000 meter, hari ini pasti kita lakukan operasi water bombing dan operasi patroli. Kita berdoa semoga semakin siang visibility semakin membaik,” ujarnya.
Daniel menjelaskan, kondisi kabut asap telah membuat helikopter BNPB dan TNI tidak mampu menjalankan water bombing secara maksimal selama kurang lebih lima hari terakhir.
Menurutnya, helikopter masih sempat menjalankan water bombing selama satu hingga dua jam saat jarak pandang memungkinkan. Namun, kondisi tersebut belum mampu mendukung pelaksanaan operasi secara maksimal.
“Untuk helikopter BNPB dan TNI, kurang lebih lima hari ini tidak bisa melakukan water bombing secara maksimal. Kalau visibility memungkinkan, mereka masih melakukan water bombing walaupun hanya satu sampai dua jam. Itu yang saya katakan tidak maksimal. Kalau yang betul-betul total tidak bisa melaksanakan water bombing, ya selama lima hari ini saat kabut pekat,” jelas Daniel.
Daniel juga menjelaskan bahwa kabut asap pekat yang menyelimuti Kalimantan Barat bukan hanya berasal dari kebakaran wilayah Kalimantan Barat, termasuk Ketapang dan Kubu Raya. Asap juga berasal dari sejumlah wilayah lain pada Pulau Kalimantan yang mengalami kebakaran.
“Kalau kita lihat arah angin, angin mengarah ke utara. Maka Kota Pontianak menjadi imbas sehingga asapnya sangat pekat,” katanya.
Daniel mengatakan pelaksanaan water bombing sangat bergantung pada kondisi visibility. Satgas tidak dapat memastikan waktu pelaksanaan operasi secara pasti karena jarak pandang berkaitan erat dengan pergerakan angin.
“Water bombing bisa kita lakukan saat visibility normal. Visibility ini tidak bisa kita ramalkan seperti kondisi hutan atau kemarau karena visibility berhubungan dengan gerakan angin. Kalau sekarang arah angin dari selatan menuju utara menerpa Kota Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya, water bombing memang belum dapat kita lakukan,” pungkasnya. (RED)















Leave a Reply