Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.
Armada militer Jepang tiba di Kalimantan Barat (Kalbar), Kamis (10/09/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Kapal militer JS Kunisaki jenis Landing Ship Tank (LST) itu bersandar di Terminal Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah. Mereka membawa misi membantu Indonesia memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk yang terjadi di Kalimantan.
Dengan armada kapal itu, Jepang membawa 180 tentara beserta tiga unit helikopter jenis CH-47 Chinook. Sehebat apa heli CH-47 Chinook?
Ternyata, CH-47 Chinook merupakan jenis helikopter raksasa, terkenal sebagai satu di antara yang terbaik untuk melakukan operasi darurat berskala besar.
Baca juga:
Netizen Msia “Semprot” RI Soal Kabut Asap: Tetangga Macam Apa Anda!
Redaksi ruai.tv mempelajari data spesifikasi teknis dari pabrikan resmi Boeing H-47 Chinook, yang menyatakan helikopter bermesin ganda ini memiliki keandalan mekanis ekstrem. Berikut adalah ulasan detail spesifikasi teknis mengapa armada ini begitu tangguh:
Sistem Baling-Baling Tandem (Tandem Rotor Layout)
Ciri paling ikonik dari CH-47 Chinook adalah penggunaan dua baling-baling besar di bagian depan dan belakang yang berputar berlawanan arah (counter-rotating). Rekam riwayat rancang bangun pada dokumen Boeing CH-47 Chinook – Wikipedia menjelaskan bahwa konfigurasi khusus ini berfungsi menghilangkan kebutuhan akan baling-baling ekor (tail rotor).
Seluruh kekuatan mesin dikonsentrasikan penuh untuk menghasilkan daya angkat maksimal. Sistem aerodinamis kembar ini memberikan tingkat stabilitas yang luar biasa bagi pilot Jepang untuk tetap terbang stabil menerjang pusaran angin panas, turbulensi udara ekstrem, dan pekatnya kepulan asap langsung di atas lahan gambut yang terbakar.
Kapasitas Gempur Udara Jumbo (5.000 Liter Air)
Untuk misi gempur api dari udara, Chinook bertindak sebagai “tangki air terbang” raksasa. Saat dikonfigurasi untuk penanggulangan bencana kebakaran hutan, armada raksasa ini dibekali dengan sistem kantong air eksternal (Bambi Bucket) jumbo yang mampu mengangkut hingga 5.000 liter air (setara 5 ton air) dalam sekali terbang untuk operasi pengeboman air (water bombing). Volume masif ini memastikan siraman air menembus bara api yang bersembunyi di bawah permukaan gambut kering secara efektif.
Baca juga:
Karhutla Mengganas, Benarkah Asing Bantu Kirim Pesawat Pemadam?
Kapasitas Angkut Ekstrem Melampaui 10 Ton
Selain andal untuk operasi bom air, armada ini menjadi tulang punggung mobilisasi logistik berat penunjang mitigasi darurat. Lembar cetak biru pada data operasional H-47 Chinook – Boeing mencatat, sistem kait kargo rangkap tiga (triple-hook system) di bawah perut pesawat sanggup mengangkat beban gantung (external payload) mencapai lebih dari 10 ton (hingga 22.000 – 26.000 pon).
Kemampuan ekstrem ini sangat krusial di medan bencana untuk memobilisasi alat-alat berat, mesin pompa air bertekanan tinggi, hingga posko portabel ke wilayah pedalaman Kalimantan yang terisolasi dari akses jalur darat. (dig/hep)















Leave a Reply