PONTIANAK, RUAI.TV – Sekretaris Jenderal Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Yakobus Kumis, mengajak pemerintah menjadikan Hari Ulang Tahun Ke-81 Republik Indonesia sebagai momentum refleksi terhadap arah pembangunan nasional.
Pesan itu Yakobus sampaikan dari Terminal Bandara Internasional Changi, Singapura, Senin (17/8), saat membandingkan kemajuan negara tersebut dengan kondisi Indonesia yang memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara maju. Namun, berbagai persoalan, terutama praktik korupsi, masih menghambat pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Yakobus menilai Indonesia belum mampu mengoptimalkan kekayaan alam untuk kepentingan rakyat. Padahal, negara dengan sumber daya terbatas seperti Singapura mampu menghadirkan fasilitas publik yang modern dan nyaman.
“Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, kita belum mampu menghadirkan banyak hal yang benar-benar bisa dinikmati masyarakat. Salah satu penyebabnya, menurut saya, karena korupsi masih merajalela,” kata Yakobus kepada ruai.tv.
Ia mendorong pemerintah dan DPR segera mengesahkan Undang-Undang Perampasan Aset sebagai langkah nyata dalam pemberantasan korupsi.
Yakobus menegaskan, refleksi kemerdekaan tidak cukup berhenti pada seremoni tahunan. Negara, kata dia, harus mengevaluasi berbagai persoalan mendasar yang masih terjadi, terutama di daerah.
Ia menyoroti kondisi Kalimantan Barat yang masih menghadapi persoalan infrastruktur, listrik, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Menurutnya, banyak masyarakat di pedalaman belum menikmati akses jalan yang layak, pasokan listrik yang memadai, pendidikan berkualitas, maupun pelayanan kesehatan yang merata.
“Kita sudah memasuki usia kemerdekaan ke-81. Namun, masih banyak masyarakat di pedalaman yang belum merasakan kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya,” ujarnya.
Yakobus juga menilai ketimpangan pembangunan memunculkan kekecewaan, terutama di kalangan generasi muda. Ia mencontohkan fenomena pengibaran bendera identitas budaya yang belakangan ramai di kalangan sebagian pemuda Dayak di Kalimantan Barat.
Menurutnya, tindakan itu merupakan bentuk refleksi dan protes terhadap berbagai kebijakan yang mereka anggap belum menghadirkan keadilan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak menunjukkan keinginan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Itu bukan bentuk keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI. Itu merupakan bentuk kekecewaan dan protes terhadap kebijakan yang mereka anggap belum adil,” tegasnya.
Yakobus menilai pemerintah perlu membaca pesan yang muncul dari kalangan masyarakat, terutama kelompok yang selama ini tinggal di wilayah pedalaman.
Ia menyebut banyak masyarakat masih kesulitan memperoleh kesempatan berusaha, akses pendidikan, layanan kesehatan, serta ruang untuk berpartisipasi dalam berbagai sektor strategis.
Selain persoalan pembangunan, Yakobus juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap masyarakat adat melalui pengesahan Undang-Undang Masyarakat Adat.
Menurutnya, masyarakat adat bukan hanya masyarakat Dayak, melainkan seluruh kelompok masyarakat di Indonesia yang masih mempertahankan adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia berharap pemerintah bersama DPR segera menyelesaikan pembahasan rancangan undang-undang tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap hak-hak masyarakat adat.
Yakobus juga mengingatkan bahwa cita-cita kemerdekaan yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama negara.
“Bagi kami, cita-cita itu belum sepenuhnya terwujud. Negara harus hadir untuk melindungi rakyat, meningkatkan kesejahteraan, serta menghadirkan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas,” katanya.
Pada momentum peringatan HUT Ke-81 RI, Yakobus mengajak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai kebijakan yang selama ini belum memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia berharap Presiden Prabowo bersama jajaran kabinet lebih sering turun ke lapangan agar dapat melihat langsung kondisi yang dihadapi masyarakat.
Di sisi lain, Yakobus mengajak generasi muda tetap menjaga persatuan dan mempertahankan Indonesia sebagai rumah bersama.
“Indonesia adalah negara kita. Merah Putih adalah bendera kebangsaan kita. Mari kita bersama-sama menjaga NKRI, sekaligus menyampaikan kritik dan aspirasi untuk mendorong lahirnya Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat,” tutupnya.(dig/ts)















Leave a Reply