Kisah Miris Pandai Besi Sekadau Saat Harga Sawit Turun

harga sawit anjlok
Aden Cal, pandai besi di Desa Mungguk, memperbaiki alat kerja petani sawit. Foto: DOK/ruai.tv

SEKADAU, RUAI.TV – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit memberi banyak dampak ikutan. Tak hanya petani mandiri yang perekonomiannya terpengaruh.

Memasuki pekan kedua Mei 2022, harga jual TBS di tingkat petani di Kabupaten Sekadau, masih belum menampakkan pemulihan. Kalangan pandai besi pun, terimbas turunnya harga TBS kelapa sawit.

Pasalnya, semakin sedikit petani yang menggunakan jasa pandai besi, untuk memperbaiki alat mereka. Alat-alat untuk bekerja di kebun sawit, rata-rata memerlukan jasa para pandai besi.

Baca juga: Polres Sanggau Ungkap Pembunuhan dan Pencurian Sawit

Seperti dodos, sebagai alat panen, yang setiap saat perlu ditajamkan mata pisaunya. Atau jika bengkok dan rusak, maka pandai besi yang bisa memperbaikinya.

Pandai besi di Desa Mungguk, Kecamatan Sekadau Hilir, sangat merasakan penurunan pendapatan. Aden Cal, satu di antara pandai besi di desa ini, menuturkan, saat ini semakin sedikit petani yang menggunakan jasanya.

“Waktu harga sawit tinggi, pendapatan saya pun tinggi. Karena banyak petani beli atau memberbaiki alat mereka di sini,” kata Aden Cal.

Baca juga: Harga TBS Sawit Periode April, Cek di Sini

Harga Sawit Anjlok

Usaha “pantan” dalam sebutan lokal untuk usaha pandai besi ini, ikut terseok-seok. Aden Cal menduga, rendahnya harga sawit, membuat para petani menunda atau membatalkan perbaikan alat kerja mereka.

“Kalau harga sawit tinggi, para petani rajin merawat kebun mereka. Pakai alat yang kami buat dan jual, seperti agrek, dodos, gancu, dan parang layang,” tutur Aden Cal.

Usaha “pantan” Aden Cal berada di Gg Sahabat, Jl Merdeka Timur Kilometer 7, Desa Mungguk. Di tempat ini, dalam kondisi harga sawit tinggi, pesanan cukup banyak.

Baca juga: Bupati Sanggau Akan Datangi Pabrik Sawit, Cek Harga TBS

Aden Cal melayani pembuatan alat baru, maupun perbaikan alat lama. Harga yang dia patok untuk perbaikan, biasanya melihat tingkat kerusakan. Namun ada kisaran harga yang tetap, untuk jenis alat yang dia jual.

Saat harga sawit anjlok seperti ini, jumlah pelanggan pun menurun cukup signifikan.

“Ndak tentu, kadang-kadangnya mampu sampai 20 butik, kadang 30. Kalau udah musimnya, musim tebas, ramai orang datang (ke sini),” ujar Aden Cal.

Baca juga: Tak Ada Listrik dan Pinjam Komputer, Kendala Ujian SMP di Daerah Ini

Untuk service atau perbaikan alat, dia mematok kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu. Misalnya untuk perbaikan jenis gancu Rp 20 ribu, agrek Rp 30 ribu, dan dodos Rp 20 ribu.

Sedangkan harga lumayan untuk penjualan alat baru buatan dia. Seperti agrek Rp 250 ribu, dodos Rp 150 ribu, dan gancu Rp 50 ribu.

Di Kabupaten Sekadau, keberadaan para pandai besi cukup banyak. Aden Cal hanya satu di antara yang banyak itu.

Bahkan hasil tempaan para pandai besi, sudah terkenal sampai luar wilayah kabupaten. Tak hanya peralatan untuk pekerjaan kebun sawit, tetapi juga berbagai perabot rumah tangga berbahan besi tempaan. (RED)