Meriam Karbit di Pontianak, Tahun Ini Tanpa Festival

Dokumentasi sebelum pandemi: permainan meriam karbit di pinggir Sungai Kapuas. Foto: courtesy Prokopim Kota Pontianak.

PONTIANAK, RUAI.TV – Festival Meriam Karbit yang biaranya diselenggarakan setiap Bulan Ramadan, tahun ini ditiadakan karena masih dalam suasana pandemi akibat COVID-19. Peniadaan festival juga terjadi tahun lalu.

Di tahun-tahun sebelumnya, ratusan pucuk meriam karbit berjejer di setiap pinggir Sungai Kapuas di kawasan pusat kota. Dentumnya yang menggelegar, menjadi ciri khas yang sering mendorong rasa penasaran para wisatawan.

Baca juga: 113 Pengunjung Hiburan Malam di Ketapang SWAB di Tempat

Meskipun tanpa festival, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mempersilakan warga menggelar permainan tradisional itu secara mandiri.

“Kita tidak menggelar festival meriam karbit tahun ini, tetapi jika masyarakat ingin memainkannya dipersilakan,” ujarnya, Senin (12/04/2021).

Baca juga: Asyik Ngamar, 3 Pasang Bukan Pasutri di Nanga Pinoh Terciduk Razia

Meriam karbit merupakan permainan rakyat yang menjadi tradisi setiap bulan Ramadan dan malam Idulfitri di Kota Pontianak. Disebut meriam karbit, karena meriam yang dibuat dari bahan kayu, menggunakan karbit sebagai bahan bakar untuk membunyikannya. Permainan ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat kota ini.

Baca juga: Tarawih Perdana, Wali Kota Pontianak Salat di Masjid Raya Mujahidin

Edi mengingatkan, agar selama memainkan meriam karbit, warga tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Jejen, mengatakan, telah melakukan komunikasi kepada komunitas meriam karbit terkait hal ini. Para pegiat merian karbit di berbagai komunitas, menurut Jejen, bisa menerima keputusan ini.

Baca juga: 5 Kapal dan 28 ABK Vietnam Ditahan di Pontianak

Saat ini, kata Jejen, Kota Pontianak memiliki sekitar 40 kelompok meriam karbit. Seluruh kelompok tergolong aktif sebagai wujud melestarikan budaya di Kota Pontianak.

“Permainan meriam karbit di Kota Pontianak telah menjadi warisan budaya tak benda sehingga hal ini harus kita lestarikan,” kata Jejen. (*/SVE)