Legenda Lokal Perlu Dihidupkan Kembali untuk Kelestarian Kalimantan

Legenda Lokal Perlu Dihidupkan Kembali untuk Kelestarian Kalimantan
Web binar Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan, Komisi Wali Gereja Indonesia (SGPP-KWI). Foto: IST/ruai.tv

PONTIANAK, RUAI.TV – Kerusakan hutan dan bagaimana masyarakat berpartisipasi dalam pemulihan alam, menjadi bahasan diskusi yang diselenggarakan Sekretariat Gender dan Pemberdayaan Perempuan, Komisi Wali Gereja Indonesia (SGPP-KWI), Sabtu (27/11/2021).

Diskusi daring dengan lebih 60 peserta dari regio Kalimantan itu mengangkat tema “Restorasi Bumi Rumah Bersama & Paru Paru Dunia -Refleksi Ecotheology Feminis Kristiani (Catatan dari Kalimantan)”.

Satu di antara nara sumber, Pastor Patrisius Mutiara Andalas, SJ, seorang akademisi dan praktisi, menyebut, Gereja Katolik mengajarkan pertobatan ekologis, sebagai gerakan bersama untuk kembali memberi perhatian pada Ciptaan Ekologis berupa alam dan lingkungan.

Baca juga: Pantun Bupati Paolus Hadi di Web Binar SGPP KWI

Gereja Katolik melalui ensiklik “Caritas in Veritate” oleh Paus Benediktus XVI, menyebut alam merupakan anugerah Allah bagi semua mahluk, sehingga harus dikelola secara bertanggungjawab.

Untuk konteks Kalimantan, Pastor Andalas mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali mitos, legenda, dan kisah-kisah yang di masa lalu menjadikan alam tetap lestari. Ada kecenderungan, kerarifan tradisi itu mulai ditinggalkan, seiring masifnya penguasaan hutan untuk kepentingan investasi.

Baca juga: Tradisi Nyapat Gawai dan Batobus Buah Pulang – VIDEO

“Banyak budaya lokal yang mendukung kelestarian dan keberlanjutan alam. Bencana banjir yang terjadi di Kalimantan Barat, menjadi momen untuk memahami, tanah tidak hanya dipandang dari aspek ekonomis, melainkan wilayah yang sakral,” ujar Pastor Andalas.

Karena sakralitas alam dan hutan, dia menyerukan pribadi-pribadi untuk tergerak melakukan langkah penyelamatan, sekecil apapun. Dia mengingatkan agar jangan sampai terjabak pada pemahaman dangkal mengenai pertobatan ekologis, yang justru tidak mengubah perilaku menuju pemulihan alam.

Baca selanjutnya dengan klik pages 2