Madu Hutan Ketapang, Satu Pohon Hasilkan 400 Kilogram

madu hutan ketapang
Sarang madu hutan hasil panenan petani. Foto: IST/ruai.tv
Advertisement

KETAPANG, RUAI.TV – Musim panen madu di Kabupaten Ketapang sudah tiba. Satu di antaranya di Desa Ulak Medang, Kecamatan Muara Pawan.

Desa ini memiliki potensi madu hutan dari lebah yang bersarang di pohon. Perkirannya, dari satu pohon bisa menghasilkan sekitar 400 kilogram madu.

Seperti saat panen madu pada Jumat (05/08/2022), petani madu di desa ini mendapatkan sekitar 50 buah sarang lebah hanya dari satu pohon. Madu yang berhasil mereka panen mencapai takaran 400 kilogram.

Advertisement

Baca juga: Harga Sawit Terbaru di Kalbar Periode Kedua Juli 2022

Pemerintah kabupaten telah menetapkan Desa Ulak Medang sebagai Desa Fokus untuk budidaya madu hutan. Penetapan ini sudah terjadi sejak 2021.

Kepala Desa Ulak Medang, Isnaini mengatakan, para kelompok tani sudah memanen 10 pohon. Empat pohon lainnya sedang menanti gilirannya.

Jumlah sarang lebah di setiap pohon bervariasi. Kisarannya antara 20 hingga 55 sarang.

Baca juga: Beri Contoh ke Masyarakat, Ratusan ASN Ketapang Bersihkan Jalan Kota

“Hasil madunya juga bervariasi. Satu pohon kadang 135 sampai 350 kilogram. Bahkan tahun lalu ada yang sampai 550 kilogram dari satu pohon,” kata Isnaini.

Sementara untuk periode panen, dalam satu tahun, sebuah pohon bisa panen hingga dua kali. Dan kondisi itu tergantung pada musimnya.

Saat pemanenan pada Jumat malam, Sekretaris Daerah (Sekda) Ketapang, Alexander Wilyo, berkesempatan turut merasakan suasananya. Dia ikut memanjat pohon yang memiliki sarang madu, bersama para petani.

Baca juga: Banjir Terjang Jembatan Pelang Sungai Melayu

“Supaya saya bisa merasakan apa yang kelompok tani madu rasakan, ketika berusaha memanen madu ini,” ujar Sekda Alexander.

Dia menyebut, pembinaan terhadap kelompok tani lebah madu hutan terus berlanjut. Bentuknya memfasilitasi pemberian bantuan peralatan dan perlengkapan untuk pemanenan.

“Seperti baju pemanen lebah, alat panjat pohon, kemasan produk (packaging) hingga pelatihan bagi petani. Terpenting promosi serta pemasaran,” papar Alexander. (*/RED)

Advertisement