Turun Drastis, Pendapatan Pengrajin Bidai Rotan di Perbatasan RI-Malaysia

Ani, pengrajin bidai rotan di Desa Sekidak, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Foto: Stepanus Robin/ruai.tv
Advertisement

BENGKAYANG, RUAI.TV – Pengrajin bidai rotan di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat, mengalami penurunan pendapatan secara drastis di masa pandemi. Padahal di masa normal, permintaan bidai rotan jusru paling banyak berasal dari pembeli di Negeri Jiran, Sarawak, Malaysia Timur.

Bidai merupakan tikar tradisional khas suku Dayak di pedalaman Kalimantan Barat. Produksinya dengan cara menganyam secara manual bilah-bilah rotan yang sudah diraut halus.

Baca juga: 20-an Tahun, Usia Pengedar Narkoba di Warung Desa Maboh

Advertisement

Bagi pengrajin yang sudah berpengalaman, jalinan rotan ini membentuk berbagai motif. Umumnya, motif ukiran khas Dayak. Ada juga yang diselang seling dengan bahan kulit kayu sebagai aksesoris.

Para pengrajin bidai rotan di antaranya berada di Desa Sekidak, Kecamatan Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang. Wilayah ini berbatasan darat dengan Distrik Serikin di Sarawak, sehingga hubungan perdagangan tradisional terjalin erat sejak lama.

Baca juga: 6 Kilometer, Sekat Kanal Antisipasi Karhutla di Muara Pawan

Ani, satu di antara pengrajin bidai, kepada ruai.tv menuturkan, pandemi sangat menghambat perkembangan usahanya. Dalam kondisi normal, dia bisa mendapatkan sekitar Rp 2 juta per bulan dari penjualan produknya.

“Sekarang ini memang terhambat, meskipun tetap ada yang pesan. Tapi sudah jauh menurun, mungkin setengahnya,” kata Ani saat dijupai di desanya, Jumat (19/03/2021).

Baca juga: Saat Putusan MK: Aron di Sekadau, Subandrio di Jakarta

Selain melayani pesanan pembeli dari Negeri Jiran, Ani juga pernah menerima pembeli dari Kabupaten Sambas yang datang langsung ke desanya.

“Karena mereka tahu saya membuat bidai di sini, banyak yang biasanya datang langsung,” ujar Ani.

Baca juga: Rupinus-Aloysius Belum Komentari Putusan MK

Harga bidai bervariasi, biasanya di rentang Rp 100 ribu hingga Rp 1,5 juta, tergantung ukurannya. Harga dipatok lebih mahal dua kali lipat untuk pembeli dari Negeri Tetangga, menyesuaikan dengan kurs ringgit malaysia (RM) terhadap rupiah.

Selain memroduksi tikar bidai, para pengrajin juga membuat perabot dapur seperti bakul, atau barang-barang berupa tas rotan. Meski sudah setahunan dilanda pandemi, semangat para pengrajin masih terpelihara, terbukti dengan terusnya mereka memproduksi barang-barang ini. (ROB/SVE)

Advertisement