Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.
Pernah harus menoreh karet setengah tahun. Berhenti kuliah karena tak sanggup beli diktat. Nilai bahasa Inggris anjlok. Tapi pernah mengajar mata pelajaran ini kelak kemudian hari.
Itulah sebagian warna-warni kehidupan Yohanes Ontot (59), Bupati Kabupaten Sanggau. Dia punya kenangan masa muda tak terlupakan di Kota Pontianak, yang turut menempa masa remajanya.
Pria kelahiran Sanggau ini mengenang, tak banyak siswa asal pedalaman era 1970-an bisa bersekolah di ibu kota provinsi.
“Maklumlah, kita orang pedalaman ini sering merasa ‘kelangker’. Itu istilah bahasa daerah, artinya merasa tidak mampu, merasa miskin, sehingga tidak berani keluar,” kenang Ontot, dalam perbincangan dengan ruai.tv, Kamis (06/08/2026).
Ternyata, dia merupakan satu di antara sedikit siswa pedalaman yang bersekolah di SMA St Paulus Pontianak pada 1978-1981. Bisa tinggal di Pontianak, karena ditampung pamannya, Simon Djalil, yang waktu itu berkerja sebagai dosen.
Di SMA St Paulus, Ontot masih mengalami didikan para bruder dari Belanda. Satu di antaranya (alm) Bruder Ewaldus, MTB yang mengajar seni musik. Dia juga mengingat, sekolah itu pernah secara sementara dipimpin seorang Muslim bernama Effendy Kasim.
Kemungkinan merupakan pejabat sementara yang ditugaskan pemerintah untuk sekolah swasta kala itu. Bagaimana perjuangan Ontot remaja di sekolah swasta faviorit perkotaan kala itu?
“Waduh, di pelajaran bahasa Inggris, nilai saya kadang dua, atau tiga. Sampai saya digelari guru saya Pak Firmus dengan sebutan ‘pekak lantak’, artinya ndak ngerti-ngeri dijelaskan,” ucapnya sambil tertawa.
Firmus merupakan guru honorer dari NTT. Justru dengan ketegasan guru tersebut, Ontot muda terpacu mendongkrak kemampuan bahasa Inggrisnya. Buku paket setebal tiga jari berisi grammar, dia “lahap” habis.
“Akhirnya nilai bahasa Inggris saya bagus, delapan, sembilan, gitu. Waktu itu rasanya, mampu lah bersaing dengan anak-anak orang kota,” ujar Ontot.

Lulus dari SMA, kembali Ontot muda mengalami kesulitan keuangan. Dia pulang kampung dan selama enam bulan menyadap karet bersama abang dan ayahnya.
Hasilnya sebanyak 300 kilogram karet. Harga karet tahun itu Rp 100 per kilogram. Seluruh karet dijual, dia mengantongi Rp 30.000 untuk biaya kembali ke Pontianak.
Dia mengenang, uang sejumlah itu terbilang cukup besar. Dia kemudian mendaftar menjadi mahasiswa Program D2 bahasa Inggris di Universitas Tanjungpura. Program itu, kata dia, di antaranya digagas oleh tokoh pendidikan masa itu, AR Mecer.
“Saya hanya mampu bertahan satu semester. Berhenti kuliah karena hampir tiap hari harus beli diktat. Duit saya habis,” ucap Ontot.
Sang Paman menyarankan dia untuk mendaftar di Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN). Mulailah dia kembali menata cita-citanya, dari sebelumnya ingin jadi guru bahasa Inggris, menjadi abdi negara.
Saat masuk D2 di Untan, dia berpikir kelak bisa sambil mengajar dan menabung untuk melanjutkan ke S-1. Garis tangan membelokkan cita-cita itu ketika dia lulus APDN dengan gelar Bachelor of Art (BA) pada 1986.
Beberapa saat magang di Kantor Gubernur Kalbar, dia kemudian ditugaskan ke Sekretariat Daerah di Kabupaten Sanggau. Tak lama kemudian, pindah tugas sebagai staf di Kecamatan Toba, hingga menjabat Kepala Urusan Pembangunan (Kaurbang).
Nah, di kecamatan inilah, cita-cita menjadi guru bahasa Inggris menemukan tempatnya. Selain sebagai staf kecamatan, dia memberi waktu untuk mengajar di sebuah sekolah dengan honor Rp 500 per jam.
“Di rumah saya ada perpustakaan mini. Saya standarkan kamus dan grammar bahasa Inggris terbitan Exford. Selain itu banyak juga buku tentang pemerintahan, politik, dan sedikit ekonomi. Novel berbahasa Inggris pun banyak,” ucapnya.
Nasib buku-buku itu pun tak selalu rapi di rak. Sesekali orang meminjam, namun lupa mengembalikan. Biarlah, ucap Otot, anggap sebagai amal.
Teman satu SMA yang hingga kini tetap bersahabat baik dengannya adalah seorang guru besar politik di Untan. Namanya Prof Dr Maryoto.
“Di kelas 1 SMA, saya dan Prof ini satu kelas. Pisah kelas waktu naik kelas dua karena beda jurusan. Tapi tetap bersahabat sampai sekarang,” ujarnya.
Karir politik Yohanes Ontot terbilang cemerlang. Setelah mengabdi sebagai ASN, dia terjun ke dunia politik. Dua kali sebagai Wakil Bupati Sanggau, dan kini dia menempati tampuk tertinggi daerah berjuluk Bumi Daranante itu. (dig/hep)














Leave a Reply