Arsip

Mata Perih, Masker Belum Siap, Kabut Asap Mulai Pekat

Suasana berkabut asap pagi hari di Kota Pontianak, Kamis (06/08/2026). Foto: ruai.tv/hep
Konten disediakan oleh DigiCorner, zona cerita dari Ruai TV.

Udara segar yang biasa menyapa Kota Khatulistiwa di pagi hari mendadak hilang, Kamis (6/8/2026) pagi. Warga Kota Pontianak terpaksa “menghirup” kabut asap yang mulai terasa pekat. 

Seorang warga Kabupaten Kubu Raya, yang bekerja di Kota Pontianak, Viktor Marsono (46) mengatakan, kemunculan kabut asap pagi ini lebih pekat dari hari-hari sebelumnya. Matanya terasa agak perih, dan pandangan cukup terhalang. 

“Saya belum sempat menyiapkan masker untuk anak-anak saya. Tiap pagi saya harus mengantar anak saya ke SD dan SMP, sebelum saya lanjut ke kantor,” kata Viktor kepada ruai.tv

Advertisement

Seperti tahun-tahun sebelumnya, angka penggunaan masker sebagai pelindung meningkat. Viktor mengatakan, sudah saatnya stok masker di rumah karena akan digunakan setiap hari. 

Selain jarak pandang agak terbatas di pagi hari akibat kabut, indera penciuman merasakan aroma sisa kebakaran lahan yang cukup menyengat. Hari-hari terakhir memang terjadi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di beberapa wilayah di Provinsi Kalimantan Barat. 

Baca juga: Puncak Kemarau Agustus, Kolam Siram Petani Sayur Pontianak Mengering

Situasi darurat ini merujuk pada Keputusan Gubernur Kalimantan Barat yang menetapkan status Siaga Darurat Bencana Karhutla dan Asap hingga 15 November 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Barat, menyatakan, penetapan kedaruratan ini merespon lonjakan ratusan titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah wilayah. 

Indeks Udara Menembus Angka Merah: Sangat Tidak Sehat

Kondisi ini bukan sekadar visual kabur yang mengganggu mata pengendara. Merujuk pada data real-time stasiun pemantau independen IQAir, indeks kualitas udara (AQI) di wilayah Pontianak sempat menembus angka 222. Angka tersebut secara resmi menempatkan kualitas udara kota ke dalam zona merah dengan kategori Sangat Tidak Sehat.

Nafas terasa sesak pagi hari merupakan akibat tingginya konsentrasi Particulate Matter (PM2.5). Partikel debu halus sisa karhutla ini berukuran sangat kecil, sehingga mampu menembus masker kain biasa dan langsung mengendap di dalam saluran paru-paru manusia.

Publikasi portal resmi pemerintah InfoPublik Kementerian Kominfo, menyebut, karakteristik lahan gambut di sekitar area ring dalam Pontianak membuat penanganan harus ekstra cepat. Meskipun api di permukaan tampak padam, bara api di bawah lapisan tanah gambut tetap menyala dan terus memproduksi kepulan asap pekat yang terbawa angin kemarau ke arah pusat kota. (dig/hep)

Advertisement