BENGKAYANG, RUAI.TV – Warga RT Tampe, Kelurahan Sebalo, Kecamatan Bengkayang, melayangkan keluhan keras terhadap kondisi air terjun Riam Sebopet yang berubah keruh pekat dalam tiga bulan terakhir.
Mereka menduga aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di hulu sungai menjadi penyebab utama pencemaran. Riam Sebopet yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat dan ikon wisata di pusat Kota Bengkayang kini kehilangan pesonanya.
Air yang dulunya jernih dan dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan, kini berubah warna menjadi cokelat lumpur dan tidak lagi layak digunakan. Warga setempat, Marbun, menegaskan bahwa perubahan kualitas air berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat.
“Air sekarang keruh sekali, tidak bisa dipakai. Dampaknya bukan hanya ke wisata, tapi juga ke ekonomi warga. Budidaya ikan dan sawah kami ikut terganggu,” ujarnya, Sabtu (11/4).
Ia juga menyebut, kondisi ini telah mematikan aktivitas di kawasan wisata yang sebelumnya ramai digunakan untuk latihan renang anak-anak hingga kegiatan pramuka.
Keluhan serupa disampaikan Narti, warga lainnya. Ia mengaku kondisi air yang tercemar menyulitkan kebutuhan sehari-hari. “Kami sangat terganggu. Air seperti ini tidak bisa dipakai untuk aktivitas rumah tangga,” katanya.
Dampak pencemaran juga dirasakan kalangan mahasiswa. Jesica, mahasiswi Institut Shanti Buana yang tinggal di asrama, mengaku kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
“Airnya tidak bisa lagi digunakan untuk mandi dan mencuci. Ini sangat menyulitkan kami sebagai mahasiswa yang tinggal di sini,” ungkapnya.
Warga mengaku telah melaporkan persoalan ini kepada pihak setempat. Namun hingga kini, belum ada tindakan tegas terhadap aktivitas PETI yang diduga terus berlangsung di hulu sungai.
Masyarakat mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum segera menghentikan aktivitas ilegal tersebut. Mereka berharap langkah konkret segera diambil untuk memulihkan kualitas air dan menyelamatkan ekosistem sungai yang kian terancam.
Lihat Juga:















Leave a Reply