Mahasiswa dan Pelaku Usaha Kecil di Sintang Tolak PPKM

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMI) Kapuas Raya bersama perwakilan UMKM di Sintang, Senin (03/05/2021) saat beraudiensi dengan DPRD Sintang. Foto: DOK/ruai.tv

SINTANG, RUAI.TV – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kapuas Raya, sejumlah perwakilan pengelola warung kopi, dan pedagang kaki lima (PKL), melakukan audiensi ke Gedung DPRD Kabupaten Sintang, Senin (03/05/2021).

Mereka menyampaikan aspirasi menolak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro di kabupaten itu. Penolakan itu disampaikan melalui sebuah petisi.

Baca juga: Penularan Virus Korona Meningkat di Sintang, Ini Kebijakan Bupati Jarot

Mahasiswa dan para pelaku usaha kecil ini diterima oleh Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Sintang, Heri Jambri.

Pimpinan Cabang IMM Kapuas Raya, Aldo Topan Rivaldi, mengatakan, audiensi ini sebagai cara menyampaikan aspirasi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang terdampak penerapan PPKM berskala mikro.

Baca juga: April, Penyebaran Virus Corona Lebih Ganas di Sintang

Mereka berpendapat, pemberlakuan PPKM mikro di Kabupaten Sintang, tidak tepat sasaran untuk kondisi daerah.

“Kami menyampaikan aspirasi kawan-kawan UMKM yang terdampak PPKM, pelaku usaha kecil kami pertemukan dengan anggota dewan, sekaligus menyampaikan petisi penolakan atas PPKM itu,” kata Topan.

Baca juga: Kapuas Hulu Dirikan Posko di Perbatasan Sintang

Topan mengatakan, penyelesaian masalah virus corona merupakan kewajiban semua pihak. Namun harus dilakukan dengan cara-cara yang tidak merugikan masyarakat maupun pelaku usaha kecil.

“Saya membaca pernyataan Bapak Bupati Sintang di media massa, mengatakan 90 persen penularan dari luar. Tapi kenapa justru masyarakat Sintang sendiri yang dibatasi. Mengapa misalnya, tidak membuat posko di perbatasan, dan memeriksa orang yang masuk,” kata Topan.

Baca juga: Konfirmasi Positif COVID-19 di Sintang Capai Seribu Lebih

Dia juga menyoroti perlakuan Tim Gabungan yang melakukan razia di sejumlah warung kopi. Menurut Topan, ada warung kopi yang pengunjungnya hanya 10 orang, tetapi jumlah petugas yang merazia jauh lebih banyak.

“Justru petugas yang membuat kerumunan saat razia. Saya juga mempertanyakan, apakah para petugas itu sebelumnya sudah di-SWAB,” ujar Topan. (RED)