Produksi Sampah di Pontianak Turun Selama Pandemi

Ilustrasi. Dok: ruai.tv

PONTIANAK, RUAI.TV – Produksi sampah rumah tangga di Kota Pontianak menurun dari rata-rata harian, selama masa pandemi. Dalam kondisi normal, rata-rata produksi sampah berkisar 350 hingga 400 ton per hari.

Saat momen peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2021, Rabu (03/03/2021), Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, Saptiko, mengatakan, rumah tangga bisa berperan dalam pengelolaan sampah.

“Pandemi memengaruhi jumlah sampah hingga turun sekitar 10 persen. Saya imbau masyarakat sudah mulai memilah sampah sejak dari rumah,” kata Saptiko.

Baca juga: VIDEO: Yuk, Buang Sampah Tepat Waktu

Dia menambahkan, dalam menjaga kebersihan kota, peran pemerintah saja tidaklah cukup. Diharapkan peran dan kesadaran masyarakat, di antaranya dengan pemilahan sampah dari rumah tangga.

Memisahkan sampah organik seperti buah, sayur, atau sisa makanan dari sampah non organik seperti plastik, kertas, dan materi lain yang tak bisa terurai.

“Sampah-sampah tersebut bisa dimanfaatkan oleh komunitas peduli lingkungan atau masyarakat sehingga bernilai ekonomi,” ujarnya.

Baca juga: Bersih-bersih Pantai di Hari Peduli Sampah Nasional

Di antara solusi sampah yang dia tawarkan, berupa pembuatan pupuk kompos dan budidaya maggot atau larva lalat black soldier fly (BSF) sebagai bahan baku pakan ternak alternatif.

“Sudah ada masyarakat yang mempraktikkan budidaya maggot secara swadaya. Juga ada yang skala besar dengan penghasilan sekitar Rp14 juta per bulan,” kata Saptiko.

Sampah non organik bisa disalurkan ke bank sampah, sehingga pihak lain bisa memanfaatkan nilai ekonomisnya. Pemerintah kota telah menerapkan jadwal buang sampah pukul 18.00 WIB sampai dengan 06.00 WIB.

Baca juga: Polesan Mural di Kawasan Pecinan Kota Pontianak

Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menuturkan, partisipasi rumah tangga dalam pengelolaan sampah bisa mengurangi beban kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA).

“Selain memetik manfaat kebersihan lingkungan, saya ajak masyarakat menemukan nilai ekonomi dari sampah-sampah ini,” ujar Edi. (*/SVE)