Pengamat Apresiasi UMKM Bertahan dari Krisis

Ilustrasi - Tas wanita yang merupakan bentuk diversifikasi produk UMKM, menjadikan kain tenun sebagai bagian yang khas dikombinasi dengan bahan baku lain seperti kulit sintetis dan rantai. Foto: Hanz. E. Pramana
Advertisement

PONTIANAK, RUAI.TV – Pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) ditantang oleh situasi untuk senantiasa kreatif dan inovatif. Sebab, sektor ini terbilang relatif mampu bertahan di tengah krisis, termasuk dalam situasi pandemi Covid-19.

Pengamat ekonomi dari Universitas Widya Dharma Pontianak, Kalimantan Barat, Maran, memaparkan, UMKM mampu bertahan karena tidak terpengaruh oleh kurs mata uang asing. Kalau pun nilai tukar dolar naik, pengaruhnya hanya pada daya beli konsumen, bukan pada modal usaha.

Sementara perusahan besar sangat terpengaruh oleh perubahan kurs, yang mengakibatkan terjadinya peningatan biaya untuk mengembalikan pokok pinjaman dan bunga.

Advertisement

“Dengan kreatif, pelaku UMKM mampu menciptakan produk barang dan jasa yang kekinian, yang dibutuhkan masyarakat. Sementara inobatif, selalu memperbaiki produk yang ditawarkan selama ini,” kata Maran kepada ruai.tv, Rabu (03/02/2021).

Wakil Rektor Non Akademik ini mencontohkan, produk bide atau tikar rotan yang semula dibuat polos, harus dikembangkan dengan memunculkan keunikan berupa motif-motif yang baru dan menarik.

“Tetap ciptakan produk yang sama dengan yang sudah ada di pasaran, tetapi orang bisa membedakannya dengan yang lain karena adanya keunikan itu. Harus disesuaikan dengan keinginan konsumen,” kata kandidat doktor ilmu ekonomi ini.

Baca:
Dorong Geliat UMKM untuk Pulihkan Ekonomi

Dia menekankan, pelaku UMKM harus memanfaatkan kemajuan teknologi digital untuk mendongkrak pemasaran. Meskipun tidak dalam masa pandemi, pemanfaatan fasilitas digital menjadi wajib dikuasai. Seperti memanfaatkan media sosial untuk promosi serta transaksi elektronik sebagai peralihan sistem tunai atau cash.

“Pelaku UMKM harus mampu berafiliasi dengan flafform digital yang tersedia. Sekarang bukan lagi era konvensional. Tidak dibatasi ruang dan waktu. Flatform bisnis tidak punya produk karena mereka lebih ke service, maka UMKM berpeluang memainkan perannya,” ujar Maran.

Tak ketinggalan, pelayanan prima ala UMKM menjadi keharusan, jika tidak ingin kehilangan konsumen. Testimoni konsumen terhadap produk, komunikasi intens untuk memastikan pengiriman barang tidak terkendala, merupakan bagian dari pelayanan itu.

“Harus aktif misalnya menanyakan apakah barang yang dikirim sudah tiba. Bisa juga meminta testimoni, sebab dari situ pelaku usaha bisa belajar tentang kepuasan terhadap produknya,” kata Maran. (SVE)

Advertisement