Ngakak Hingga Miris, Reaksi Warganet Soal Prostitusi Online

Petugas kepolisian sedang mendata anak di bawah umur yang diduga terlibat jaringan prostitusi online di Kota Pontianak. Foto: Dika Febriawan/ruai.tv

PONTIANAK, RUAI.TV – Maraknya pengungkapan jaringan prostitusi melalui dunia maya di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, memancing beragam reaksi warganet (netizen). Lalu lintas interaksi mereka di laman media sosial ruai.tv diwarnai berbagai reaksi. Mulai reaksi yang memancing gelak tawa, hingga ekspresi keprihatinan.

Seperti ketika laman group public Facebook RUAI TV  menampilkan berita 10 Anak Bawah Umur Terlibat Prostitusi Online di Pontianak pada Jumat (05/02/2021). Hingga dua hari setelahnya, Minggu (07/02/2021), postingan itu mendapatkan 1.007 reaksi berbagai emoticon, 160 komentar, dan dibagikan sebanyak 194 kali.

Apa di antara komentar para warganet? Ada yang memposisikan diri sebagai “hakim” yang mengadili. Ada yang menjadikannya ajang gurauan.

Banyak juga yang tiba-tiba muncul dengan berbagai petuah dan nasihat. Ungkapan keprihatinan juga tak kalah ramai. Di antara warganet bahkan sampai berdebat cukup sengit.

Ajang Ngakak
Pemilik akun Rahmat Raja Oleng berkomentar: “Itu baru cucu kake,” disertai tiga buah emoticon tertawa, dan sebuah stiker elektronik dengan foto bintang film dewasa asal Jepang yang populer dengan julukan Kakek Sugiyono. Di stiker itu tertulis: “Sumpah, bukan kakek yang ngajarin.”

“Sungguh meresahkan bagi para cowo,” komentar pemilik akun Babang Boboy. Komentar itu dibubuhi emoticon kucing sedang tertawa.

“Knpa harus jual diri, ngpa nda nikah aja kn di nafkahi suami,” komentar Klaudius Juita.

Pemilik akun Wisnu Yulianto menanggapi komentar Klaudius Juita, dengan menuliskan:
“Susah bos apalagi dengan umur segitu pada masih labil mentalnya, didaerah saya banyak yg nikah muda rata2 engak ada yg beres paling 1/10 aja yg beneran langgeng.”

Pemilik akun Richa Ellya hanya mengupload stiker elektronik bernada kocak dengan gambar sandal dan tulisan: “Gak komen dulu, sendal ilang sebelah.”

Sementara pemilik akun Jpn Aric, menirukan kalimat ala twitland: “Si kecil mulai berkarya bund,” yang diakhiri dengan emoticon api sedang menyala.

Komentar senada ditulis oleh pemilik akun Retno Brc: “Si kaka mulay aktif tu bun..”

“Yg di bawah umur ini yg paling gawat….gmna nanti klu udh di atas umur,” komentar TeOdAtUs Yeen disertai emoticon tertawa dan berpikir.

Aprio EH CaEm menulis komentar: “Kaseh mantau kau aiiii dek dek dek. Segitu nya kah dirimu demi mendapatkan uang untuk kebutuhan hidupmu sehari hari, dan untuk merawat kecantikan mu itu (emoticon memegang kepala) bocil mah sekarang bebas bro, Ndak mampu di lawan (emoticon memegang kepala).

Dan…di tengah hiruk pikuk perang komentar, ada saja pemilik akun yang jeli memanfaatkan kesempatan untuk promosi usaha: “JASA SERVICE AC BERGARANSI PONTIANAK. CUCI AC DAN SERVICE AC PANGGILAN TANPA REPOT” lengkap dengan nomor pesan singkat yang bisa segera dihubungi.

Nada Prihatin
Di antara berbagai komentar yang mau tak mau mengundang gelak tawa, atau minimal senyum itu, muncul pula komentar yang layak menjadi masukan. Terutama bagi para orangtua yang barangkali cukup terpengaruh psikologisnya terhadap peristiwa yang diberitakan itu.

Pemilik akun Wisnu Yulianto menulis: “Pentingnya pengajaran oleh orang tua nih jangan dilepas begitu aja anaknya ditambah belajar tentang sex itu jangan dianggap tabu jadi si anak bisa tau apa dampak dan akibatnya nanti.”

Pemilik akun Elisabet Lubin, menulis: “Itu lah anak jaman sekarang ambil jalan pintas demi uang apa pun akan dia lakukan. Saya berharap semoga pihak keamanan di perketat operasi nya biar ndk bertambah banyak korban kasian anak2 penerus bangsa lalu hilang martabat nya.”

Imenn Ajha menulis: “coba kalau ad pekerjaan..mngkin mereka gk begitu…mereka jga cri makn tpi dengan cara yg gituan…”

Ada juga yang merasa gusar dengan komentar-komentar miring. Seperti pemilik akun Kurniadi Kyt Babaro, yang menulis:

“Coba x-an comen tu ngaca semua nya kalian kira mudah ke cari kerja zmn sekarang jgnkan kerja yang halal kerja yang haram jg susah’ mau kah x-an ngasi mereka duit terus mulu tanpa imbalan mereka jg manusia sama dengan kita-kita.”

“Para orang tua udah memberikan pendidikan yg terbaik buat anak2 nya tapi anak2 itu sungguh memalukan,” komentar Kanjeng Segoro.

Picky Lina menulis: “Dinas sosial memberikan mereka pelatihan keterampilan…. Pemerintah memberikan modal Usaha…. Pasti ekonomi menjadi kondusif…. Krn mereka msh muda..”

Sedikit lebih teknis, pemilik akun Irwan memberikan pemikirannya:

“Hal seperti ini. Perlu perhatian oleh banyak pihak yang terkait seperti KPAI, psikiater, dinas sosial dsb. Karna kita tidak bisa hanya melihat dari kamera depan. Mereka melakukan pasti ada alasan alasan penting bagi mereka. Sebab itu perlu survey dan dikorek sampai ke akar akarnya… Serta memberikan kegiatan positif yang bisa mereka lakukan.”

Harapan seorang ibu tercurah dalam komentar Sustina Luse Momjenny, yang menulis komentar agak panjang:

“Semoga saj tuhan melindungi anak anakku kelak,supaya jangan macam itu, itulah akibat dari mereka malas dan slalu mengandalkan orang tuanya saja,coba di masa pandemi bgini mereka manfaatkan waktu luangnya untuk mencari krjaan yang halal,kan klau enak mrka jga yang nikmatin,ini malah cari jalan yang salah pula,rata rata jaman sekarang bukan hanya anak2 saja tetapi orang tua jga kbanyakan,jadikan dirinya sebagai tontonan,dan pemuasan nafsu laki laki,hanya karena kuota uang dll mrka tak perduli suami orang atau bukan,jaman smakin maju tapi manusia smakin bodoh dan salah menggunakan kmajuan teknologi.”

Perlu Pendampingan
Orangtua menjadi pusat solusi atas masalah prostitusi yang melibatkan anak-anak di bawah umur. Kondisi mereka yang belum mandiri dan secara emosional sangat labil, memerlukan pendampingan orangtua secara intens.

Yuliana Sri Marti, guru bimbingan dan konseling di sebuah sekolah swasta di Kota Pontianak, kepada ruai.tv menuturkan, petugas yang melakukan razia, perlu menelusuri akar masalahnya. Jika akar masalah sudah ditemukan, bisa mencari solusi yang tepat.

“Banyak kemungkinan faktor penyebab anak-anak ini bertindak seperti itu. Misalkan, sebagai bentuk protes kepada orangtua karena kesalahan pola asuh, cara orangtua mendidik anak yang terlalu keras. Atau terlalu lunak, terlalu membiarkan,” kata lulusan Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta ini.

Menurut dia, terlalu banyak kemungkinan yang menjadi penyebab perilaku tersebut. Faktor ekonomi yang sulit sering menjadi tudingan utama. Anak usia labil sering terdorong untuk memiliki sesuatu yang sebenarnya belum sanggup dia penuhi, sehingga mengambil jalan pintas. (SVE)