Arsip

11 Hari Kapal Jepang Berlayar ke Kalbar Bawa 3 Heli dan 180 Tentara

Kapal militer JS Kunisaki jenis Landing Ship Tank (LST) sandar di Pelabuhan Kijing, Kamis (10/09/2026). Foto: ruai.tvadpim

MEMPAWAH, RUAI.TVKapal militer JS Kunisaki jenis Landing Ship Tank (LST) akhirnya berlabuh di di Terminal Pelabuhan Kijing, Kabupaten Mempawah, setelah berlayar selama 11 hari. Kapal ini sandar di Pelabuhan Kijing, Kamis (10/09/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. 

Dari Jepang, kapal ini menuju wilayah perairan Kalimantan Barat (Kalbar) membawa 3 buah helkopter raksasa dan ratusan tentara.

Mereka dalam misi membantu Indonesia dalam menangani bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di Pulau Kalimantan. Gubernur Kalbar, Krisantus Kurniawan, didampingi Komandan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) XII/Lantamal XII, Laksda TNI Sawa, menyambut delasi Jepang di Dermaga Kijing. 

Advertisement
Wagub Kalbar Krisantus Kurniawan (tengah) sedang berbincang dengan delegasi Jepang. Foto: ruai.tvadpim

Baca juga:

Sehebat Apa Heli Jepang CH-47 Chinook? Cek di Sini!

Tim dari Negara Matahari Terbit itu sedang mengemban misi kemanusiaan bernama “Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR)”. Saat seremoni penyambutan, Krisantus tampak mengalungkan syal tenun tradisional Kalimantan ke pundak pimpinan delegasi Jepang. 

“Ini suatu pengorbanan dan bantuan yang sungguh luar biasa. Mereka berlayar selama 11 hari sampai ke sini. Tadi saya juga sudah menyampaikan kepada Komandan Kapal bahwa Indonesia, khususnya Kalbar, memiliki karakteristik lahan yang unik,” ujar Krisantus. 

Dia juga memaparkan, di antara tantangan utama penanganan Karhutla di Kalbar berupa karakteristik lahan gambut. Api pada lahan gambut tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga merambat di bawah permukaan tanah sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan.


Berpose di depan helikopter raksasa milik Jepang, jenis CH-47 Chinook. Foto: ruai.tvadpim

“Untuk memadamkan api, kondisi lahan di sini sangat berbeda dengan Jepang. Api bisa menjalar dari bawah dan sulit dipandang dengan mata. Ini bukan pekerjaan mudah,” ujar Krisantus. 

Baca juga: 

Netizen Msia “Semprot” RI Soal Kabut Asap: Tetangga Macam Apa Anda! 

Dia berharap, kehadiran tiga unit helikopter CH-47 Chinook dan 180 personil tentara Jepang, dapat memperkuat kemampuan pemadaman. Terutama di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. 

Selain karakter gambut, keterbatasan sumber air juga menjadi tantangan dalam pemadaman. Apalagi sejumlah sungai mengalami surut akibat kemarau. 

Krisantus mengatakan penentuan lokasi pemadaman akan dikoordinasikan bersama TNI, Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dengan mengacu pada titik-titik api yang telah terdeteksi. (red/hep/*rls adpim)

Advertisement