Seribu Lampion Sambut Imlek di Pontianak

Ilustrasi - Suasana kawasan Jl Gajah Mada Kota Pontianak yang dihiasai lampion saat Imlek. Foto: Hanz E. Pramana

PONTIANAK, RUAI.TV – Sekitar seribu lampion bakal memeriahkan pusat Kota Pontianak, Kalimantan Barat dalam momen Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek). Hiasan gantung yang menjadi ciri khas perayaan ini akan dipasang di sepanjang Jalan Gajah Mada.

Kesibukan sejumlah orang terlihat di Yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti, Selasa (02/02/2021). Mereka sedang merakit lampion-lampion dengan lampu di dalamnya, sehingga setelah dipasang akan tampak bercahaya di waktu malam.

Sekalipun kondisi pandemi Covid-19 tidak memungkinkan penyelengaraan atraksi naga dan barongsai seperti biasanya, pemasangan aksesoris itu bukan termasuk yang dilarang.

Baca:
Memaknai Imlek Saat Pandemi Bersama Keluarga Terdekat

Anggota Yayasan Pemadam Kebakaran Panca Bhakti, Edwin, kepada ruai.tv mengatakan, aksesoris gantung itu disediakan melalui kerjasama dengan Yayasan Bhakti Suci.

“Yayasan Bhakti Suci menyediakan lampion, lampu, dan alat-alatnya, dan kami yang mengerjakannya. Ya, saling membantu lah. Jumlahnya kurang lebih seribu lampion,” kata Edwin.

Pergantian Musim

Dewan Pakar Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kalimantan Barat, Andreas Acui Simanjaya, menjelaskan, perayaan Imlek merupakan bagian dari budaya Tionghoa. Perayaan pergantian musim semi, yang dahulu dilakukan oleh masyarakat Tionghoa yang sebagian besar bergerak di sektor agraris.

“Maka sebenarnya perayaan Imlek tidak ada hubungannya dengan agama apapun, sebab tradisi ini sudah ada sejak lama, jauh sebelum agama Kong Fu Chu dan agama lain muncul,” ujar Acui menjawab ruai.tv.

Ditambahkannya, memang ada sebagian orang mengadopsi Imlek sebagai bagian dari hari besar keagamaan, seperti Kong Fu Cu. Tetapi sesungguhnya sejak dahulu, perayaan Imlek dirayakan oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia.

Seperti juga umumnya hari raya, hari pertama Imlek di lakukan kunjungan pada orang tua dan yang dituakan untuk sungkeman. Biasanya yang muda (anak, menantu, dan cucu) berlutut di hadapan orang tuanya.

“Tetapi karena kondisi pandemi Covid-19, perayaan Imlek tidak harus ramai-ramai dengan atraksi naga ataupun fertival dan pameran. Cukup kita rasakan makna bersama anggota keluarga terdekat,” kata Acui.

Makanan Khas

Makanan yang cukup menonjol saat Imlek dan Cap Go Meh adalah kue keranjang dan jeruk. Dinamakan kue keranjang, karena wadah cetaknya berbentuk keranjang yang dibuat dari anyaman bambu.

Wadah yang dialasi daun pisang itu diisi tepung ketan cair bercampur gula, kemudian dikukus berjam-jam sampai matang. Warna adonan tepung ketan yang semula putih berubah menjadi coklat.

Kue ini ditujukan sebagai hidangan untuk menyenangkan Dewa Dapur agar membawa laporan yang menyenangkan kepada Raja Surga. Bentuknya yang bulat bermakna agar keluarga yang merayakan Imlek terus bersatu, rukun, dan bulat tekad menghadapi tahun yang akan datang.

Sementara jeruk, merupakan hantaran dan hidangan saat Imlek yang melambang rejeki. Warnanya yang kuning melambangkan keagungan.

Jika sebelumnya masyarakat Tionghoa menggunakan jeruk mandarin, kemudian diganti dengan jeruk Bali sebagai produk lokal. Maknanya tetap sama, dan bentuk jeruk Bali yang besar memperkuat makna rejeki yang juga besar. (MAR/SVE)