Arsip

Wayang Kulit Jadi Ruang Rawat Persatuan di Tengah Keberagaman Kalbar

Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto menghadiri Pagelaran wayang kulit yang dilaksanakan oleh Paguyuban Giri Mulyo Wonogiri Kalbar. (Foto/ruai.tv)
Advertisement

KUBU RAYA, RUAI.TV – Pagelaran wayang kulit yang berlangsung semalam suntuk di Taman Dirgantara Supadio, Sabtu (24/5) malam menghadirkan lebih dari sekadar tontonan budaya.

Kegiatan yang digagas Paguyuban Giri Mulyo Wonogiri Kalimantan Barat itu menegaskan peran seni tradisi sebagai ruang merawat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kalimantan Barat.

Paguyuban menghadirkan lakon “Semar Mbangun Khayangan” sebagai inti pertunjukan. Cerita tersebut mengangkat nilai kebijaksanaan, gotong royong, serta semangat membangun kehidupan harmonis.

Tokoh Semar tampil sebagai figur sederhana yang memandu lahirnya tatanan damai, adil, dan tenteram. Nilai itu terasa relevan dengan kondisi sosial saat ini, ketika masyarakat menghadapi tantangan menjaga kebersamaan di tengah perbedaan latar belakang.

Dalang perempuan asal Wonogiri, Nyi Wulan Sri Panjang Mas, S.Sn, membawakan kisah tersebut dengan gaya komunikatif dan penuh penekanan pada pesan moral. Ia menuturkan alur cerita dengan ritme yang mampu menjaga perhatian penonton sepanjang malam.

Penampilan itu sekaligus menunjukkan bahwa regenerasi pelaku seni tradisi terus berjalan dan membuka ruang bagi perempuan untuk mengambil peran strategis dalam pelestarian budaya.

Gambar: Paguyuban Giri Mulyo Wonogiri Kalimantan Barat gelar Pagelaran wayang kulit di Taman Dirgantara Supadio. (Foto/ruai.tv)

Wakil Bupati Kubu Raya Sukiryanto menilai wayang kulit memiliki kekuatan sebagai media edukasi sosial. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah melihat tradisi tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan sarana menyampaikan nilai kebangsaan.

“Wayang kulit mengajarkan banyak hal, mulai dari kebijaksanaan hingga pentingnya persatuan. Nilai ini harus terus hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menekankan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung kegiatan budaya lintas etnis. Menurutnya, perhatian terhadap seluruh paguyuban budaya menjadi bagian penting dalam menjaga keharmonisan daerah.

“Kami ingin semua komunitas budaya mendapat ruang yang sama agar semangat kebersamaan terus tumbuh,” kata Sukiryanto.

Ketua Paguyuban Giri Mulyo Wonogiri Kalbar AKP (Purn) Suharto melihat pagelaran ini sebagai momentum strategis untuk memperkuat ikatan sosial warga Jawa di perantauan sekaligus membuka ruang interaksi dengan masyarakat luas.

Ia menilai kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan budaya mampu mempererat hubungan antarkelompok masyarakat. “Wayang kulit bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Kegiatan ini mempertemukan banyak orang dalam suasana kebersamaan dan memperkuat rasa persaudaraan,” ujarnya.

Suharto menambahkan, paguyuban terus berupaya menjaga keberlanjutan tradisi agar generasi muda tetap mengenal warisan leluhur. Ia berharap kegiatan serupa dapat berlangsung secara rutin dengan melibatkan lebih banyak kalangan, terutama anak muda.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal budaya secara simbolik, tetapi juga memahami nilai yang terkandung di dalamnya,” ucapnya.

Antusiasme penonton yang memenuhi area pertunjukan menunjukkan bahwa wayang kulit masih memiliki tempat di hati masyarakat. Mereka bertahan hingga larut malam untuk mengikuti alur cerita yang sarat pesan moral.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa tradisi tetap relevan ketika dikemas dengan pendekatan yang menarik dan komunikatif. Pagelaran ini sekaligus menegaskan bahwa budaya dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai kelompok masyarakat. Nilai yang terkandung dalam setiap lakon mampu melampaui batas etnis dan menjadi pesan universal tentang pentingnya kebersamaan.

Kehadiran berbagai unsur pemerintah, TNI-Polri, tokoh masyarakat, serta warga dari berbagai daerah di Kalimantan Barat menambah kuat makna kebersamaan dalam kegiatan ini. Interaksi yang terbangun sepanjang acara mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat Indonesia.

Melalui pagelaran wayang kulit, Paguyuban Giri Mulyo Wonogiri Kalbar tidak hanya merayakan hari jadi ke-17, tetapi juga menegaskan komitmen menjaga nilai persatuan. Tradisi tersebut terus hidup sebagai medium refleksi sosial sekaligus pengingat bahwa keberagaman membutuhkan ruang bersama agar tetap harmonis.

Lihat Juga: