Menjaga kedamaian bersama Alumni Fakultas Hukum Untan

PONTIANAK- Dalam rangka menjaga kedamaian dalam keberagaman di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) khususnya di Kota Pontianak Kalimantan Barat, alumni Fakultas Hukum Untan angkatan 1982 mengelar silaturahmi bersama aktivis mahasiswa dan tokoh lintas agama di restoran berskala Internasional GH Corner Jalan Gusti Hamzah No.205, Sabtu Sore 23 Juni 2018, sekitar pukul 18.30 wib.

Pertemuan yang sekaligus sebagai silaturahmi pasca hari Raya Idul Fitri 1439 hijiriah ini sengaja digelar di restoran yang bertaraf internasional, karena pertemuan ini memiliki motto “Ingat Makan Ingat Tuhan.”

Salah satu peserta yang juga alumni Fakultas Hukum Universitas Untan Tengku Mulia Dilaga mengatakan, Bersatu dalam keberagaman atau kemajemukan merupakan kenyataan dalam kehidupan di masyarakat.
Keragaman merupakan salah satu realitas utama yang dialami masyarakat dan kebudayaan di masa lalu, kini dan masa depan. Di satu sisi keragaman diterima sebagai fakta yang dapat memperkaya kehidupan bersama, tetapi disisi lain dianggap sebagai faktor penyulit. Kemajemukan bisa mendatangkan manfaat yang besar, namun juga bisa menjadi pemicu konflik yang dapat merugikan masyarakat sendiri jika tidak dikelola dengan baik.

Praktisi hukum Untan ini juga menjelaskan, bahwa Kalbar adalah Role Model keberagaman atau Kebhinekaan, dengan multi etnis dan agama, namun sejatinya sejak dulu hidup damai dalam keberagaman dalam kehidupan nyata. Kesetaraan derajat individu melihat individu sebagai manusia yang berderajat sama dengan meniadakan hierarki atau jenjang sosial yang menempel pada dirinya berdasarkan atas asal rasial, suku bangsa, kebangsawanan, atau pun kekayaan dan kekuasaan.

Tengku Mulia Dilaga juga menjelaskan bahwa di Indonesia, berbagai konflik antar suku bangsa, antar penganut keyakinan keagamaan, ataupun antar kelompok telah memakan korban jiwa dan raga serta harta benda, seperti kasus Sambas, Ambon, Poso Dan Kalimantan Tengah. Masyarakat majemuk Indonesia belum menghasilkan tatanan kehidupan Demokratis.

Persoalan-persoalan tersebut sering muncul akibat adanya dominasi sosial oleh suatu kelompok. Adanya dominasi sosial didasarkan pada pengamatan bahwa semua kelompok manusia ditujukan kepada struktur dalam sistem hirarki sosial suatu kelompok. Di antara kelompok-kelompok yang ada, kelompok dominan dicirikan dengan kepemilikan yang lebih besar dalam pembagian nilai-nilai sosial yang berlaku. Adanya dominasi sosial ini dapat mengakibatkan konflik sosial yang lebih tajam.

Oleh karena itu kami aktitivis mahasiswa 82 fakultas hukum berupaya mewujudkan kedamaian dengan menggelar halal bi hahallal bersama dengan rekan rekan non muslim degan mengambil tempat di restoran berskala internasional degan moto “Ingat Makan Ingat Tuhan,” jelasnya.

Dipilihnya tempat ini sebagai tempat silaturahmi bukan tanpa alasan, keberadaan restoran ini memberikan pelayanan terbaik, konsumen diperlakukan dirumah sendiri seperti tamu yang datang ke rumah kita, itulah makna kebersamaan dan persaudaraan, Bhineka Tunggal Ika itu makna sebenarnya yang beragam satu itu, angkatan 82 fakultas hukum yang alumni dulunya aktivis mahasiswa, dalam pertemuan ini ingin mewujudkan untuk memberdayakan tidak hanya diranting, tetapi juga dibarang walaupun hanya 30 orang alumni, kami eksis menjaga kerukunan dan perdamaian. Tutupnya.(Red)