Arsip

Keragaman Agama, Budaya dan Adat Harus Dijaga

Advertisement

PONTIANAK – Wakil Gubernur Kalbar Ria Norsan memandang tema yang diangkat dalam Talim ini yaitu “Menggalang Ukhuwah, Hindari Perpecahan dalam Kesatuan Ummat Menuju Kejayaan Islam dan Muslimin” sangat tepat dan sangat relevan dengan kondisi yang di hadapi bangsa saat ini termasuk di Kalbar.

“Saya mengajak kita semua yang hadir, melalui acara ini dapat terus menjaga silaturahmi ditengah keragaman adat, budaya dan agama yang berbeda diantara masyarakat kita sehingga tercipta rasa persatuan dan kesatuan demi pembangunan dan kemajuan Kalbar,” ajak Ria Norsan, Minggu (16/12) saat menghadiri acara Ta’lim Jama’ah Muslimin Wilayah Kalbar Ke XXII di Masjid Raya Mujahidin.

Dirinya juga menandang acara ini sebagai sebuah kegiatan yang positif sebagai upaya meningkatkan kualitas keimanan, meningkatkan wawasan dan pengetahuan bagi kita khususnya umat Muslim di Kalbar. Pemprov Kalbar menyambut baik dan memberikan apresiasi kepada Panitia dan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Kalbar atas prakarsanya dalam menyelenggarakan kegiatan Ta’lim. Ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan Islam merupakan salah satu sumber utama kekuatan umat muslim sebagai implementasi Hablum Minannas (Hubungan antar manusia) dengan penuh cinta dan kasih sayang.

Advertisement

Dikatakannya, terwujudnya Ukhuwah Islamiyah merupakan dambaan setiap Muslim, hanya saja, nilai ukhuwah ini terkadang kerap mengalami permasalahan yang dapat merusaknya Islam sangat menekankan persaudaraan dan persatuan, bahkan Islam datang untuk mempersatukan umatnya dengan banyaknya persamaan, bukan untuk berpecah belah terhadap sedikit perbedaan, pada zaman sekarang ini.

“Media sosial sebagai produk teknologi

seharusnya perlu didayagukanan untuk memperkuat ukhuwah, mempererat tali silaturahim dan persaudaraan muslim,” ingatnya.

Namun, pada faktanya, seringkali medsos disalahgunakan. Medsos digunakan sebagai ajang untuk saling mencaci, mem-bully, menyebarkan ghibah, fitnah, namimah (mengadu domba), dan permusuhan khususnya di tahun politik. Gunakan medsos untuk kemaslahatan dan kebaikan, serta merajut persaudaraan. “Bukan untuk menebar gosip, hoax, fitnah, dan adu domba, agar bijak dalam memanfaatkan medsos.

“Kemudahan komunikasi mestinya dijadikan wahana penyambung silaturrahim dan pengokoh ukhuwah,” jelasnya.

Dalam kondisi seperti ini dibutuhkan kedewasaan semua pihak, terutama masyarakat di tingkat bawah untuk tidak terbawa arus dengan hasutan, fitnah dan provokasi, masyarakat harus di kuatkan dengan prinsip “Ukhuwah Wathaniyah” Persaudaraan Sesama Warga Negara Ukhuwah Islamiyyah” Persaudaraan Sesama Orang Islam dan “Ukhuwah Basyariyah” Persaudaraan sesama Manusia.

“Hal ini menjadi sangat penting untuk dikuatkan di tengah bebasnya ujaran kebencian, hasutan dan fitnah yang bebas dimana-mana untuk memecah belah ikatan sesama warga negara,” pesannya.

Dijelaskannya, umat Islam tidak hanya mempunyai ikatan persaudaraan dengan sesama muslim, akan tetapi punya tanggungjawab menjaga persaudaraan antar sesama warga negara yang beragam.

Umat Islam telah lama berdampingan secara harmonis dengan umat lain dalam bingkai kebhinnekaan, Pancasila dan NKRI. Warisan penting persaudaraan yang telah dirumuskan oleh para pendahulu bangsa ini harus dijaga untuk menjamin keutuhan negara dan bangsa khusunya di Kalbar.

“Umat Islam harus cerdas dalam menyikapi perbedaan, apalagi menyikapi ajakan yang memperuncing perbedaan, kita tidak bisa menghindari perbedaan, tetapi yang terpenting adalah menjaga perbedaan dalam kesatuan yang harmoni,” ingatnya lagi.

Ria Norsan yang juga Mantan Bupati Mempawah mengatakan, saat ini salah satu fenomena yang terjadi di sekitar kita adalah munculnya pemahaman agama yang eksklusif, cenderung radikal dan tertutup.

Sementara di sisi lain terjadi penurunan nilai moral serta akhlak generasi muda sehingga terjadi berbagai pelanggaran norma serta tindak kejahatan di sekitar kita seperti maraknya pelecehan seksual, penghinaan, pembunuhan, penipuan, yang berdampak pada goyahnya sendi-sendi kehidupan kita sebagai bangsa yang beradab dan beragama.

Ditambah lagi dengan maraknya peredaran obat-obat terlarang seperti Narkoba yang menyasar para generasi muda bangsa ini sehingga kini telah dianggap sebagai kejahatan luar biasa. Tentu Pemerintah, ulama dan orang tua, tidak bisa menutup mata, berdiam diri dan hanya bicara, akan tetapi juga harus berbuat sesuatu mengingat anak-anak merupakan generasi penerus sekaligus aset bangsa yang harus dijaga sehingga terbebas dari bahaya dan pengaruh negatif.

Untuk membentengi para generasi muda terutama para siswa dan mahasiswa dari hal-hal negatif maka perlu ditanamkan dan diwariskan nilai-nilai keagamaan secara terus menerus, hal ini dimaksudkan agar umat dapat memahami makna ajaran agama secara benar dan terarah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang taat melaksanakan ajaran agamanya dengan rukun, damai dan sejahtera.

“Saya mengajak semua Pemuka Agama dan semua yang hadir disini mari bersama-sama untuk saling bersinergi, saling bermitra, dan saling melayani untuk kepentingan bersama, terutama terkait dengan peran serta dan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pembangunan, serta atas kontribusinya selama ini dalam mengawal dan menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, sehingga sampai hari ini kita masih hidup berdampingan dengan harmonis,” ujarnya.

Terus tingkatkan kiprahnya dalam berbagai sektor pembangunan di negeri ini, sehingga cita-cita kita mewujudkan Kalimantan Barat yang makmur, damai dan sejahtera dapat terwujud. Tetaplah berjuang demi

kemajuan Islam dan pembangunan bangsa. (Red).

Advertisement