Pendeta Emeritus Obet Nilli, Setengah Abad Menginjil di Pedalaman Kalimantan [ADV]

Pendeta Emeritus Obet dan istrinya Miliya, didoakan oleh para koleganya. ADV/ruai.tv

SINTANG, RUAI.TV – Pendeta Obet Nilli, inisiator Gereja Persekutuan Sidang Kristus (GPSK) yang berpusat di Sintang Kalimantan Barat, memasuki usia pensiun. Dalam istilah GPSK, diemirituskan, sejak akhir Januari 2021.

Pdt. Obet Nilli kini menapak usia ke-76 tahun. Dia pensiun dari ikatan pelayanan secara dedominasi gereja. Namun tetap berkomitmen melayani dalam doa pelayanan keliling sepanjang dimampukan Tuhan.

Pak Obet, sapaan akrabnya, telah memberikan pelayanan aktif selama setengah abad di GPSK. Dia memulai pelayanan keliling sejak 1971.

Dalam rentang pengabdian itu, berbagai posisi telah dijalaninya. Bermula dari Asisten Gembala.

Kemudian menjadi Gembala Periodik, Kepala Sekolah Alkitab, Wakil Ketua Sinode, Ketua Sinode, Ketua Daerah, kembali menjadi Asisten Gembala.

Terakhir menjelang masa pensiunnya, menjadi Gembala di GPSK Sangkakala Sebuluh. Daerah ini berada di Ketungau Hulu bagian Utara, kampung halamannya sendiri.

Sang istri, Miliya (67), Pengurus Pusat Sinode GPSK, Pengurus Daerah, jemaat, hingga anak, menantu, cucu dan keluarga, hadir dalam kesederhanaan saat momen penyerahan SK Emeritus.

Hadir Ketua Sinode Pdt. Natanel, Sekretaris Umum Pdt. Riduan Damanik, dan Kabid. Personalia Pdt. Tarsito Kefas, S.Th dan Ketua Pengurus Daerah, Pdt. Saul. Ucapan terima kasih diberikan dalam bentuk piagam penghargaan dan uang pensiun sebesar Rp 50 juta.

Pernah Terinfeksi Covid-19
Setengah abad bukan waktu yang singkat. Pdt. Obet telah mengalami aneka peristiwa. Dia bersaksi kembali, mengenang masa lalu yang penuh kisah.

Saat pria yang rambut lebatnya telah memutih itu bersaksi, sosoknya terlihat tetap energik.

Selain peristiwa baik, yang kurang baik pun turut mewarnai perjalanan hidup dan pelayananya. Pernah tiga kali mengalami peristiwa yang secara manusia hampir-hampir membawa pada kematian.

Beberapa bulan lalu, dia pernah dirawat di rumah sakit.

“Begitu saya masuk rumah sakit, saya merasa seperti masuk dalam gua, gua mulut alam maut. Saya masih sadar saudara, dalam hati saya berdoa dengan Tuhan beginilah keadaan, tidak hanya saya tapi masih banyak yang lain, tolong kami Tuhan. Tidak bisa berkomunikasi dengan orang bayak, selain perawat, dan Tuhan sendiri,” ucap Pdt. Obet.

Pdt. Obet merupakan satu di antara pasien Covid-19 di Rumah Sakit Rujukan RSUD Ade M. Djoen Sintang. Dia menjalani perawatan selama 15 hari di ICU. Opname sejak 19 November dan keluar 4 Desember 2020.

Dalam rentang perawatan, dia membaca kitab Mazmur. Berulang-ulang. Dia mengaku kembali semua dosa yang telah dilakukan.

“Jadi bapa ibu saudara, memang Tuhan sendiri tidak mau jemput saya pada waktu itu,” katanya.

Pdt. Obet, yang menyakini kesembuhan dari Covid-19 karena Tuhan menjawab doa dari keluarga maupun dari banyak hamba-hamba Tuhan dan jemaat, bahkan hamba-hamba Tuhan dari Singapura.

“Saya tahu itu doa yang begitu luar biasa, sehingga terjadi muzijat dalam diri saya,” sambungnya.

Daerah Merah 1970
Pertengahan 1970-an, Pdt. Obet bersama rekannya Ajut, menginjil di Ketungau. Di sana mereka mengunjungi suatu kampung. Tapi pasukan melarang, karena di wilayah itu disebut daerah merah.

Kala itu sedang terjadi pemberontakan oleh Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS/Paraku). Mereka berdua batal mengunjungi kampung itu.

Malamnya, terdengar kabar, Kepala Kampung diculik oleh para pemberontak.

“Satu sisi menyesal karena tidak sempat bertemu dengan kepala kampung yang mau diinjili. Satu sisi bersyukur pada Tuhan karena Tuhan tidak ijinkan pergi ke situ,” tutur Pdt. Obet.

Saat masih bujangan pada 1971, dia merupakan penginjil yang masih praktek di Badau, Kapuas Hulu. Saat itu, sebelum pemilihan umum, rombongan camat mengajak dia dan seorang pemuda berkunjung ke suatu wilayah untuk bicara bidang agama.

“Sebelum berangkat, saya teringat bapak angkat. Saya pergi ke ladang minta ijin dengan bapak. Tapi bapak tidak ijinkan kami dua ikut rombongan Pak Camat,” tuturnya.

Dia memberitahu ke camat, tidak jadi ikut rombongan. Belum genap satu jam perjalanan dari Badau menuju tempat kunjungan kerja, rombongan camat dicegat oleh PGRS/Paraku. Tiga orang terbunuh, satu orang luka, dan satu orang selamat.

“Satu sisi jantung saya berdebar, sisi yang lain Tuhan bicara tepat waktu, berarti itulah keselamatan yang Tuhan berikan pada saya,”ucapnya.

Menerima penghargaan didampingi istri tercinta. ADV/ruai.tv

Jangan Putus Asa
Pdt. Obet Nilli berpesan, jangan putus asa berdoa untuk GPSK, bangsa dan negara. Ia berterima kasih atas kepercayaan GPSK selama ini

Meski sudah pensiun, panggilan dan komitmen Pdt. Obet Nilli terus berlanjut. Ia tidak mau berdiam diri selama Tuhan belum memanggil pulang. Ia akan terus melayani sebagai pendoa, bahkan akan melayani keliling selama masih diberi kekuatan.

Dalam menerima panggilan, merespon dan membangun komitmen, Pdt. Obet Nilli tidak sendirian, ia ditemani seorang istri, Miliya, yang tak kenal menyerah dalam pelayanan.

“Dukungan istri tercinta ini luar biasa, saudara. Memang tidak selalu pengalaman baik, tetapi saya tidak pernah mendengar kata-kata dari istri saya, mari kita gulung tikar pulang kampung. Tidak pernah. Justru saya sendiri yang seringkali kuatir karena memang janji saya menikah itu memelihara anak orang semampu saya,” tuturnya.

Pdt. Obet Nilli lahir di Dusun Lubuk Pucung, Desa Sebuluh, Kec. Ketungau Hulu, 15 Agustus 1944. Ia dan istrinya dikaruniai 4 orang anak laki-laki, 3 menantu dan 8 orang cucu.

Anak pertama, Pdt. Natanel, M.A sebagai hamba Tuhan, sekarang Ketua Umum Pengurus Pusat Sinode GPSK. Anak kedua, Yulias, berkarya di sebuah Credit Union.

Anak ketiga, Pdt. Guspoli Carpus, S.Th baru saja menyelesaikan masa tugasnya di Ketungau Tengah selama 10 tahun. Kini dia melayani di GPSK Imanuel Lubuk Resam, Desa Nanga Nuar, Kecamatan Silat Hilir, Kapuas Hulu.

Dan anak keempat, Novlentinus, bekerja di sebuah kampus ternama di Kabupaten Sintang. (LIM/ADV)