Komunitas Dayak di Bengkayang Selenggarakan Gawai Makan Padi Baru

Pemimpin upacara adat sedang membaca mantra. Foto: Stepanus Robin/ruai.tv

BENGKAYANG, RUAI.TV – Warga Dayak Salako di Dusun Buluh, Desa Pasti Jaya, Kecamatan Samalantan, menggelar upacara adat mipit makan padi baru. Ritual ini merupakan kegiatan tahunan yang digelar setiap Februari, menandai selesainya masa panen ladang.

Umumnya di komunitas Dayak Salako yang ada di Kabupaten Bengkayang, ritual sejenis selalu dipraktikkan hingga sekarang. Mereka memasak padi baru dan menikmatinya bersama-sama, sebagai wujud syukur atas kelimpahan hasil panen. Mereka tergabung dalam komunitas adat yang disebut Benua Sawa’k.

Pemimpin upacara adat, Madon, mengatakan, upacara ini wajib digelar agar hasil panen ladang selanjutnya tetap melimpah dan memberi kesejahteraan bagi para petani.

“Jaman orangtua dulu, kalau mau naikkan padi baru, belum masak semuanya padinya ambil satu tangkai dua tangkai dimasak di rumah untuk nyantok abu. Bukan yang banyak-banyak. Tapi sekarang dah banyak padi di rumah baru bikin acara,” kata Madon kepada ruai.tv

Sejumlah kelengkapan ritual yang harus dipersiapkan, di antaranya lemang, yang dibuat dari beras ketan dan ditanak di dalam bambu. Beras ketan disebut juga poe’ dalam dialek lokal. Sejenis kue cucur atau tumpi juga menjadi menu wajib. Kelengkapan berikutnya berupa ayam kampung, pinang, dan sirih.

Kepala Benua Sawa’k, Melki Sedek, mengatakan, upacara ini menjadi ungkapan syukur, meski di tengah suasana pandemi, para peladang tetap mendapatkan hasil dari ladangnya. (ROB/SVE)